Jakarta - Volkswagen grup memulai rencana restrukturisasi perusahaan dengan menyederhanakan operasional dan menutup pabrik menyusul penurunan omset.
Melansir Top Gear, Jumat (4/9) waktu setempat, perusahaan itu menargetkan model kendaraan hanya akan tersedia setidaknya setengah dari jumlah yang dimiliki saat ini atau 75 dari total 150 merek.
"Kami sedang berada dalam transformasi terbesar dalam sejarah industri otomotif global. Semua orang terpengaruh oleh tarif AS, oleh runtuhnya pasar China dan erosi harga besar-besaran di sana, oleh konflik geopolitik seperti di Teluk Persia, oleh persaingan yang semakin ketat di Eropa, dan oleh regulasi yang menyeluruh," ujar CEO Volkswagen Group Oliver Blume.
Ia menambahkan bahwa, dengan demikian maka perusahaan telah bertekat untuk menghentikan produksi mobil yang kurang diminati atau duplikasi merek terkait.
Pihaknya juga akan menghapus seluruh merek Seat, hal ini karena menjadi pengalih perhatian Cupra yang lebih sukses dan terlalu mirip dengan VW.
Efisiensi juga akan dilakukan dengan menghapus kerumitan konfigurator, varian, mesin dan transmisi serta opsi akan dikurangi dan berfokus pada sisi yang menjadi favorit konsumen.
Hal ini pun diproyeksi akan berdampak pada ketersediaan suku cadang di diler.
Adapun hingga kini beberapa merek seperti Audi, Bentley, dan Lamborghini yang berada di bawah naungan grup itu memiliki 2.600 variasi jok dan akan dikurangi menjadi 100 saja.
Meski demikian, Blume menegaskan bahwa grup VW akan tetap menghadirkan kendaraan dengan berbagai rentang harga yang dimulai dari Skoda hingga Lamborghini Porsche dan Bentley pada kendaraan kelas premium dan akan tetap beroperasi secara global.
Melihat pasar China, VW juga bakal memangkas biaya di negara itu dan diproyeksi akan mengekspor banyak mobil buatan China ke Inggris seperti yang telah dilakukan melalui Cupra Tavascan.
Sebagaimana diketahui pada 2024, perusahaan otomotif asal Jerman ini telah mengumumkan pengurangan karyawan secara masif, meski demikian perusahaan saat ini mendapatkan margin 3,8 persen.
Grup itu diketahui sebelumnya telah memproduksi kendaraan sebanyak 11 juta pada 2019, dan kini berencana hanya memproduksi 9 juta.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.