Jakarta - Dokter sekaligus kreator konten kesehatan Gia Pratama Putra mengingatkan pentingnya mewaspadai gejala awal demam berdarah dengue dalam upaya untuk mencegah serangan penyakit memburuk secara cepat.
Gejala awal penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue itu seringkali mirip dengan gejala flu biasa, sehingga kadangkala tidak dianggap sebagai masalah kesehatan serius.
"Pada fase awal, DBD dapat sulit dibedakan dari penyakit demam lainnya," kata dr. Gia sebagaimana dikutip dalam siaran pers Takeda pada Sabtu.
Demam berdarah dengue atau DBD gejalanya antara lain demam tinggi; badan menggigil dan lemas; nyeri kepala, sendi, dan otot; mual dan muntah; serta mengalami tanda perdarahan seperti mimisan, gusi berdarah, muncul bintik-bintik merah atau ruam pada kulit.
Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi Siloam Hospitals, orang yang terserang DBD selama fase demam bisa mengalami demam tinggi mendadak selama dua sampai tujuh hari. Pada fase ini suhu tubuh bisa mendekati 40 derajat Celsius.
Setelah mengalami fase demam, fase kritis yang ditandai dengan penurunan suhu tubuh menjadi sekitar 37,5–38 derajat Celsius atau lebih rendah dapat terjadi pada hari ketiga sampai ketujuh.
Fase kritis seringkali didahului dengan penurunan trombosit secara cepat. Kalau tidak segera ditangani secara tepat, fase kritis dapat berkembang menjadi syok, gangguan organ, atau perdarahan berat.
"Yang membuat dengue berbahaya adalah ketika keluarga merasa demamnya sudah membaik, padahal justru pada fase tertentu kondisi pasien bisa memburuk cepat," kata dr. Gia.
Ia menyampaikan perlunya keluarga memantau anggota keluarga yang demam dan menunjukkan tanda-tanda serangan DBD agar bisa segera meminta pertolongan medis bila mendapati tanda bahaya seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, tubuh lemas, atau penurunan kesadaran.
"Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat," katanya.
Berdasarkan pengalamannya bekerja di fasilitas kesehatan, dr. Gia mengemukakan bahwa persoalan dalam penanganan pasien DBD seringkali berkaitan dengan kemampuan mengenali tanda bahaya dan penerapan tata laksana yang tepat.
Ia juga menekankan pentingnya pelaksanaan upaya-upaya pencegahan penyakit DBD, yang menular melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Pemberantasan sarang nyamuk melalui penerapan 3M Plus dinilai efektif untuk mencegah penularan DBD.
Gerakan 3M Plus meliputi kegiatan menguras penampungan air, menutup penampungan air, mendaur ulang berbagai barang yang bisa menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk pembawa virus dengue, menggunakan obat anti-nyamuk, dan bergotong-royong membersihkan lingkungan.
"Setiap keluarga dapat berperan dengan menjalankan 3M Plus secara konsisten, mengurangi paparan gigitan nyamuk, memperhatikan lingkungan di rumah dan tempat beraktivitas," kata dr. Gia.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.