Jakarta - Anak perusahaan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) atau WIKA Beton menghadirkan inovasi hunian yang dirancang memiliki fitur ketahanan menghadapi gempa, ramah lingkungan, serta bisa menjadi rumah tumbuh.
Inovasi hunian bernama W-HOME itu dihadirkan perseroan dalam Danantara Housing Expo 2026, sebagai upaya mendukung realisasi program 3 Juta Rumah bagi masyarakat Indonesia.
Director of Engineering and Production WIKA Beton Verly Widiantoro, dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu, menjelaskan inovasi hunian itu merupakan hasil pengembangan riset kolaboratif bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
"Kami memberikan dukungan agar program Tiga Juta Rumah ini bisa terwujud. Dengan membangun secara masif, maka salah satu tantangannya adalah kecepatan. Inovasi W-HOME ini mencoba menjawabnya," ujar Verly.
WIKA Beton merupakan salah satu perusahaan yang turut meramaikan gelaran Danantara Housing Expo pada 27-30 Agustus 2026 di NICE, Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
Verly menjelaskan salah satu keunggulan W-HOME yaitu pada proses pembangunannya menggunakan konsep modular precast, yang mana komponen rumah diproduksi terlebih dahulu di pabrik, kemudian dikirim ke lokasi dan dirakit seperti menyusun lego.
"Dengan metode itu, WIKA Beton telah melakukan dua kali uji lapangan dan dapat menyelesaikan struktur rumah dalam waktu sekitar dua hari, sedangkan keseluruhan rumah hingga all furnished dapat diselesaikan sekitar 10 hari," ujar Verly.
Selain kecepatan, Ia melanjutkan W-HOME juga dirancang memiliki ketahanan terhadap gempa, yang mana pengembangan fitur itu dilakukan melalui kolaborasi dengan BRIN sehingga melibatkan riset dan tenaga ahli eksternal
Mengacu Standar Nasional Indonesia (SNI), tingkat keamanan struktur W-HOME telah teruji sebagai rumah tahan gempa yang memenuhi standar Kategori Desain Seismik (KDS) D dari Kementerian Pekerjaan Umum, Bandung.
Selain itu, Ia menjelaskan fitur lain yang ditawarkan adalah penggunaan material yang lebih ramah lingkungan, dengan memanfaatkan sejumlah material sisa industri, seperti fly ash dari limbah batu bara dan slag dari limbah besi, yang kemudian diolah menjadi bagian dari material bangunan.
"Jadi kami memanfaatkan barang-barang limbah, sehingga itu fitur green-nya," ujar Verly.
Verly memastikan, keunggulan itu tidak hanya diuji melalui rumah contoh dalam gelaran Danantara Housing Expo, namun juga telah digunakan dalam pembangunan rumah di Aceh Tamiang.
Ia menjelaskan, proyek itu memiliki tantangan berupa keterbatasan akses kendaraan, tempat tinggal pekerja hingga kebutuhan air, sehingga metode pembangunan yang cepat menjadi penting.
Untuk mendukung proyek dengan kondisi khusus seperti Aceh Tamiang, perseroan menggunakan konsep mobile plant yakni fasilitas produksi yang disiapkan lebih dekat dengan lokasi proyek.
Untuk pembangunan di Aceh Tamiang, Ia menjelaskan kapasitas produksi bahkan dapat mencapai sekitar lima ribu rumah dalam satu bulan.
"Dengan segala keterbatasan, kami bisa secara cepat, kami bangun rumah di sana," katanya.
Sementara itu, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan bahwa tantangan pemenuhan hunian tidak hanya soal menyediakan pasokan rumah, namun juga menghadirkan akses yang lebih mudah dengan skema pembiayaan yang ramah bagi masyarakat, khususnya pembeli rumah pertama.
Guna menyederhanakan proses kepemilikan rumah, Danantara menyinergikan ekosistem BUMN properti, Himbara, dan pengembang swasta dengan menghadirkan kemudahan seperti DP mulai 1 persen hingga tenor cicilan panjang.
"Melalui pameran ini, kami berupaya menghadirkan pasokan terbaik dengan harga terjangkau, skema pembiayaan yang kompetitif, dan yang paling penting adalah akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk mewujudkan rumah impiannya," kata Rosan.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.