Jakarta, CNBC Indonesia - Sembelit jadi salah satu masalah yang kerap dirasakan para astronaut di luar angkasa. Namun penyebab sulit buang air besar ini masih menjadi misteri.
Untuk mengetahui, para peneliti dari Universitas Kopenhagen dan NASA melakukan analisa pada sampel darah para astronaut yang dikumpulkan pada sebelum, selama dan usai misi luar angkasa.
Sampel itu diambil dari 52 astronaut yang tinggal di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Semua astronaut melakukan misi selama dua hingga sembilan bulan pada periode 2006-2018.
Tim melakukan teknik metabolomik pada penelitian ini, untuk mengukur molekul kecil dalam darah.
Ternyata ditemukan pergerakan makanan melalui usus melambat karena mikrogravitasi. Hal ini mengubah cara bakteri usus memecah nutrisi.
"Kami melihat adanya perubahan pada sampel darah astronaut yang menunjukkan bakteri usus mulai memfermentasi protein dalam jumlah lebih besar dalam beberapa minggu setelah astronaut tiba di luar angkasa, perubahan ini berlanjut hingga kembali ke Bumi," jelas salah satu penulis studi, Giorgia La Barbera, dikutip dari Space, Rabu (26/8/2026).
Total 488 sampel plasma dan ditemukan perubahan 40 senyawa selama penerbangan. Termasuk sejumlah metabolit yang dihasilkan saat bakteri di usus besar yang memfermentasi protein.
Seluruh senyawa meningkat selama berada di luar angkasa, yang menunjukkan makanan lebih banyak bergerak melalui usus.
Perubahan metabolisme ini disebut bukan hanya berasal dari diet saja. Salah satu penulis studi, Henrik Roager menjelaskan kurangnya gravitasi di luar angkasa kemungkinan membuat makanan bergerak lebih lambat lewat usus.
"Ini juga bisa menjelaskan alasan sembelit pada astronaut," ucapnya.
Temuan penelitian ini menjadi penting seiring lamanya para astronaut yang dihabiskan di luar angkasa. Tak hanya sembelit, dampak dari fenomena ini juga bisa dikaitkan dengan efek kesehatan lain.
Hal ini dapat diselesaikan dengan potensi yang sederhana, yakni memperbanyak serat. Asupan karbohidrat yang difermentasi secara lambat untuk astronaut diyakini bisa memberikan mikroba usus lebih banyak karbohidrat yang dapat dikonsumsi dan mengurangi ketergantungan pada fermentasi protein.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.