Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Teknologi

'Harta Karun' Ditemukan di Bawah Tanah Gunung Tangkuban Parahu

NadiKabar Biro
'Harta Karun' Ditemukan di Bawah Tanah Gunung Tangkuban Parahu
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait 'Harta Karun' Ditemukan di Bawah Tanah Gunung Tangkuban Parahu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap dinamika sistem hidrotermal dan gas-magmatik bawah tanah Gunung Tangkuban Parahu yang berkaitan dengan aktivitas letusan freatik. Hal tersebut disampaikan Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN, Syahreza Saidina Angkasa, dalam DIGDAYA #25 - Studium Generale Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (FTG UNPAD) yang digelar secara hybrid, Rabu (26/8). Kegiatan ini mengangkat tema "Revisiting Tectonics and Magmatism of Java and Sumatra". Ini merupakan implementasi kerja sama dalam ruang lingkup penyelenggaraan kegiatan ilmiah dan diseminasi hasil riset bersama.

Syahreza membedah secara mendalam mengenai karakteristik sistem hidrotermal dan gas-magmatik bawah tanah di Gunung Tangkuban Parahu. Penelitian bersama antara BRIN, UNPAD, dan Akita University ini mengamati susunan lapisan tepra serta perubahan jenis mineral akibat letusan gunung.

"Letusan uap air panas (freatik) di Tangkuban Parahu menyebarkan material hingga radius 1,5 kilometer dari kawah. Material batuan ini mengalami perubahan warna menjadi kelabu, merah karat, hingga berubah menjadi tanah liat halus dengan suhu endapan yang dapat mencapai 400 derajat Celcius," ucap Syahreza dikutip Sabtu (5/9/2026).

Lebih lanjut, Syahreza menjelaskan bahwa penelitian ini berhasil menemukan berbagai jenis mineral penting seperti kuarsa, kristobalit, opal, alunit, serta penemuan pertama mineral jarosit pada batuan Gunung Tangkuban Parahu. Dari hasil pemeriksaan kandungan belerang, diketahui bahwa suhu air panas di bawah tanah gunung tersebut berkisar antara 200 hingga 240 derajat Celcius akibat dorongan hasil interaksi antara sistem hidrotermal dan gas yang berasal dari dalam magma.

"Ada tiga kemungkinan utama penyebab letusan di Tangkuban Parahu, yaitu letusan uap air panas murni, letusan akibat dorongan gas magma yang bercampur dengan air tanah, serta letusan karena akumulasi gas yang tersumbat di bawah kubah lava. Memahami pola ini sangat penting untuk memperkirakan dan mengurangi risiko bahaya letusan gunung berapi di masa depan," terangnya.

Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Iwan Setiawan menyampaikan bahwa BRIN memiliki beragam fasilitas dan program yang terbuka luas bagi siapa saja yang ingin belajar dan mengembangkan ilmu kebumian. "Kami memiliki banyak skema untuk semua mahasiswa di sini. Saya mengundang semua mahasiswa dan para akademisi di sini untuk bergabung dengan program magang BRIN. Kemitraan riset ini diharapkan mampu mendorong kemajuan sains kebumian yang berdampak bagi Pembangunan berkelanjutan," jelasnya.

Dekan Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Boy Yoseph Cahya Sunan Sakti Syah Alam, juga menyampaikan rasa senangnya atas kolaborasi ini. Menurutnya, karakter alam Indonesia sangatlah kaya dan dinamis sehingga dengan mempelajarinya dapat memberikan kita sudut pandang yang baru dalam memahami proses perubahan bumi.

"Pemahaman geologis tidak pernah benar-benar berhenti di satu titik. Adanya ujian baru, teknologi, dan pendapatan analisis dapat memberikan interpretasi baru proses yang kami perhatikan sebelumnya. Kerjasama antara UNPAD dan BRIN ini menjadi langkah penting untuk memajukan riset kebumian sekaligus membimbing para peneliti muda," ujar Boy.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Teknologi #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia