Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Teknologi

Kekeringan RI Bukan Hanya Imbas El Nino, BMKG Ungkap Faktor Lain

NadiKabar Biro
Kekeringan RI Bukan Hanya Imbas El Nino, BMKG Ungkap Faktor Lain
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Kekeringan RI Bukan Hanya Imbas El Nino, BMKG Ungkap Faktor Lain.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena El Nino bukan menjadi satu-satunya alasan terjadinya kekeringan di Indonesia, tetapi juga sejumlah faktor di atmosfer.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan El Nino kuat tidak otomatis membuat wilayah Indonesia mengalami kekeringan dengan tingkat dan durasi tertentu.

Menurutnya, kondisi cuaca di Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor yang meliputi dinamika atmosfer mulai dari skala global hingga lokal, serta suhu di sekitar perairan Indonesia.

"Tapi, satu hal yang perlu saya sampaikan bahwa kekeringan dan durasinya yang panjang di Indonesia semata-mata tidak tergantung dari indeks ENSO ini," kata Faisal dalam acara Insight with Desi Anwar, Jumat (28/8).

Saat ini, El Nino di Indonesia memasuki kategori sangat kuat. Faisal memperkirakan bahwa dampak fenomena ini akan berkurang ketika memasuki pertengahan bulan Oktober.

Ia menjelaskan bahwa pengaruh El Nino relatif tidak ada ketika musim hujan datang.

"Jadi, nanti pengaruh El Nino akan berkurang tidak signifikan ketika minggu masuk pertengahan dari Oktober. Ketika musim hujan telah datang, maka El Nino relatif tidak memiliki pengaruh," jelas Faisal.

Ketika terjadi pada musim kemarau, kata Faisal, fenomena El Nino membuat kondisi musim tersebut lebih kering dengan durasi yang lebih panjang.

Kondisi kering ini bisa berdampak pada sejumlah sektor, seperti sektor pertanian yang paling terdampak pada ketersediaan air.

BMKG mengingatkan adanya risiko gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga peningkatan potensi puso akibat defisit air.

Fenomena El Nino juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), penurunan kualitas udara akibat meningkatnya konsentrasi polutan, serta gangguan kesehatan masyarakat seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit akibat paparan suhu panas.

Oleh karena itu, kesiapsiagaan dan langkah antisipatif perlu dilakukan sejak dini melalui penyesuaian pola tanam, pengelolaan irigasi yang lebih efisien, serta pemanfaatan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan di sektor pertanian.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Teknologi #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia