Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Teknologi

Pasar Smartphone Asia Tenggara Anjlok, Terburuk Sejak 2014

NadiKabar Biro
Pasar Smartphone Asia Tenggara Anjlok, Terburuk Sejak 2014
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Pasar Smartphone Asia Tenggara Anjlok, Terburuk Sejak 2014.

JAKARTA — Pasar smartphone di kawasan Asia Tenggara anjlok menjadi 19,3 juta unit pada kuartal kedua 2026. Angka ini merupakan yang terendah sejak tahun 2014.

Riset terbaru dari Omdia menemukan bahwa pasar smartphone Asia menurun sebesar 23 persen, jika dibandingkan dengan tahun lalu. Meski demikian, nilai pasar justru bertahan, yakni mencapai US$ 6,6 miliar karena harga jual rata-rata (AS) naik sebesar 31 persen menjadi US$342.

"Asia Tenggara sedang menuju penyusutan pasar tahunan terparah dalam setidaknya tujuh tahun terakhir," kata Research Manager Omdia Le Xuan Chiew dalam pernyataan resminya, Kamis (27/8).

Omdia memprediksi, pengiriman smartphone di wilayah Asia Tenggara akan menyusut hingga 25 persen dari tahun ke tahun menjadi 75,3 juta unit di tahun 2026. Fenomena ini berlanjut dari paruh pertama ke paruh kedua 2026, sebab naiknya harga HP yang semakin membebani jumlah penjualan.

Beberapa negara seperti Indonesia dan Filipina turut diprediksi akan terdampak lebih besar karena bergantung pada penjualan HP murah dan toko ritel umum. Hal ini disebabkan oleh tekanan harga memori yang semakin terasa di paruh pertama 2026.

"Perangkat yang dikirimkan pada semester pertama tahun 2026 mencerminkan biaya memori berdasarkan rata-rata gabungan dari pembelian sebelumnya, bukan harga pasar saat ini," ungkap Le Xuan Chiew.

"Ini berarti margin saat ini belum mencerminkan kenaikan biaya memori. Seiring menipisnya persediaan dengan biaya lebih rendah, vendor akan menghadapi dampak penuh dari harga memori yang lebih tinggi saat ini," imbuhnya.

Riset Omdia menemukan bahwa harga di antara US$100-199 (Rp 1,7-3,5 juta) telah menyerap pangsa pasar terbesar dari sisa permintaan tingkat pemula. Angka ini meningkat dari 32 persen menjadi 39 persen dari total pengiriman.

Ini artinya, banyak seri HP yang dulunya dijual dengan harga di bawah US$100 dengan sengaja dinaikkan menjadi lebih mahal.

Menurut Senior Analyst Omdia Sheng Win Chow, secara keseluruhan pengiriman HP di segmen harga US$ 100 ke atas tetap turun 2 persen. Hal ini menunjukkan kelas harga yang lebih mahal tidak mampu menyerap semua pembeli.

"Banyak calon pembeli akhirnya memilih untuk tidak jadi beli daripada harus pindah ke HP yang lebih mahal," kata Sheng Win Chow.

Secara historis, sebagian besar volume penjualan di bawah US$100 di Asia Tenggara berasal dari diskon besar-besaran pada model yang awalnya diluncurkan dengan harga lebih tinggi.

Pada kuartal kedua, Omdia menemukan adanya perubahan pola karena vendor tidak hanya mengenalkan model baru dengan harga lebih tinggi, tetapi juga menaikkan harga perangkat yang sudah ada. Misalnya, pada peluncuran Samsung Galaxy A07 dan A17 dan Xiaomi Redmi Note 15.

Meski demikian, pangsa pasar Samsung naik sebesar 32 persen pada kuartal kedua 2026 di Asia Tenggara. Kenaikan ini didukung oleh penjualan unit di segmen harga US$200-299.

Selanjutnya, Xiaomi mencatat kenaikan ASP sebesar 43,5 persen, meski jumlah pengiriman unit turun 21 persen. Hal ini mencerminkan kenaikan harga pada beberapa ponselnya teranyarnya seperti Redmi Note 15, Xiaomi 17T dan Redmi A7 Pro.

Pengiriman ponsel Xiaomi dengan harga US$100 ke bawah turun 69 persen, sedangkan di kelas harga US$100-199 mengalami kenaikan 55 persen.

Sementara itu, Transsion yang menjadi induk dari merek Tecno, Infinix dan Itel berfokus pada pasar entry-level. Pengiriman smartphone dengan harga US$100 ke bawah turun sebesar 47 persen, sementara untuk harga US$100-199 naik 12 persen.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Teknologi #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia