Jakarta, CNBC Indonesia - Microsoft yang selama ini mendorong seluruh karyawannya untuk menggunakan kecerdasan buatan atau AI ternyata kini harus menahan laju penggunaannya. Sebuah data internal bocor menunjukkan bahwa salah satu karyawan menghabiskan biaya penggunaan AI sebesar US$ 28.000 atau sekitar Rp 18 juta hanya dalam kurun waktu 28 hari.
Angka itu jauh melampaui gaji rata-rata karyawan, sehingga pihak manajemen pun turun tangan dan meminta seluruh staf untuk menahan diri, dikutip dari laporan Futurism dan Gadget Review, Minggu (30/8/2026).
Data tersebut tercatat dalam lembar perhitungan gaji karyawan yang bocor ke publik. Terdapat kolom baru bertajuk "Pengeluaran AI per Bulan" yang menunjukkan bahwa dari sekitar 350 karyawan yang datanya tercatat, rata-rata pengeluaran untuk AI hanya sekitar US$ 300 atau sekitar Rp 1,9 juta per bulan.
Namun, satu orang karyawan dari divisi Solusi Pelanggan dan Mitra ternyata menghabiskan biaya hampir seratus kali lipat dari rata-rata tersebut. Beberapa karyawan lain bahkan tercatat menghabiskan lebih dari US$ 10.000 atau sekitar Rp 64 juta sebulan, sementara rekan kerjanya di divisi yang sama hanya menghabiskan puluhan dolar.
Melihat borosnya penggunaan AI tersebut, Wakil Presiden Eksekutif Divisi CoreAI Microsoft, Jay Parikh, mengirimkan surat edaran resmi kepada seluruh karyawan pada awal Agustus lalu. Ia meminta agar penggunaan AI dibatasi dan tidak lagi dilakukan secara berlebihan tanpa perhitungan yang jelas.
"Menghabiskan token sembarangan bukanlah tujuan yang ingin kita capai. Saya ingin kita semua berfokus memaksimalkan hasil yang memberikan manfaat nyata bagi pelanggan dan bisnis kita," tulis Parikh dalam surat edaran tersebut.
Sebagai langkah penghematan, Microsoft pun memutuskan mengganti model AI yang digunakan secara baku di dalam perusahaan. Kini seluruh karyawan akan dialihkan menggunakan model GPT-5.6 Sol yang dikembangkan oleh OpenAI, versi yang jauh lebih hemat biaya dan tidak banyak memakan biaya komputasi.
Kasus di Microsoft ternyata bukan satu-satunya. Perusahaan raksasa lain seperti Amazon juga dikabarkan pernah membuat papan peringkat yang memuji karyawan yang paling banyak menggunakan AI. Namun, ketika tagihan biaya mulai masuk dan melonjak tak terkendali, papan peringkat itu pun langsung ditutup.
Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan teknologi ternyata belum siap menanggung biaya riil dari dorongan yang mereka sebarkan sendiri. Selama ini mereka bersemangat mendorong setiap orang untuk memakai AI di mana-mana, namun ternyata biaya yang ditimbulkannya sangat mahal dan belum tentu sebanding dengan manfaat yang dihasilkan. Kini setelah tagihan datang, mereka baru menyadari bahwa penggunaan AI yang gila-gilaan dan tidak terarah justru merugikan perusahaan sendiri.
Bagi Indonesia, pelajaran ini sangat berharga. Mengadopsi teknologi baru memang penting, namun harus disertai perhitungan biaya dan manfaat yang matang. Jika tidak, kemajuan teknologi yang seharusnya membantu justru dapat membebani biaya operasional hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.