"Situasi tersebut membuat pesawat tidak memungkinkan mendarat di Sampit. Hingga kini, belum ada kepastian kapan penerbangan dapat kembali dibuka karena semuanya bergantung pada perbaikan kondisi cuaca dan jarak pandang," katanya.
Raihansyah menduga kabut asap yang menyelimuti Sampit tidak hanya berasal dari kebakaran di sekitar perkotaan. Asap dari wilayah lain juga diduga terbawa angin hingga ke kawasan bandara, sehingga jarak pandang tetap terganggu meskipun kebakaran di sejumlah lokasi perkotaan mulai berkurang.
"Dampak penutupan bandara pun merembet ke sektor ekonomi. Kalangan pebisnis dan investor yang biasanya mengandalkan penerbangan untuk menunjang mobilitas harus menyesuaikan agenda perjalanan mereka," ujarnya.