Jembatan lama yang dibangun pada 1937 itu selama ini menanggung beban besar. Jalur tersebut menopang lebih dari 70% perdagangan resmi antara kedua negara, baik melalui kereta api maupun kendaraan. Namun, kendaraan hanya bisa melintas satu arah pada satu waktu.

Jembatan baru ini awalnya dijadwalkan dibuka pada 2014. Namun, Korea Utara belum menyelesaikan pembangunan fasilitas bea cukai dan pengawasan perbatasan yang diperlukan. Penyebab keterlambatan itu tidak pernah diumumkan secara resmi. Sejumlah kemungkinan mencakup perselisihan antara Beijing dan Pyongyang serta penutupan perbatasan Korea Utara selama pandemi COVID-19.

Prospek investasi industri skala besar tetap terbatas akibat sanksi PBB, menurut analisis yang diterbitkan akhir Agustus oleh Institut Strategi Keamanan Nasional Korea Selatan.

Para pengamat menilai jembatan baru ini kemungkinan akan secara bertahap meningkatkan perdagangan bilateral dan memperbaiki efisiensi logistik.

"China dan Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK), nama resmi Korea Utara, adalah tetangga bersahabat yang dihubungkan oleh sungai dan pegunungan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning. Ia menambahkan bahwa jembatan ini adalah proyek konektivitas penting bagi kedua negara.

Hubungan kedua negara belakangan ini menunjukkan perbaikan yang nyata. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi Beijing pada September 2025, dalam salah satu kunjungannya yang jarang ke luar negeri. Presiden China sekaligus pemimpin Partai Komunis, Xi Jinping, kemudian membalas kunjungan tersebut dengan mendatangi Pyongyang pada Juni tahun ini.

Dalam jangka pendek, perdagangan diperkirakan tidak akan langsung melonjak tajam karena Beijing akan tetap mempertimbangkan kepentingan Pyongyang, menurut laporan terbaru Gyubeom Kim, pakar di Institut Strategi Keamanan Nasional Korea Selatan. Meski demikian, ekspor Korea Utara ke China, seperti barang olahan, produk makanan, kosmetik, dan minuman beralkohol, berpotensi meningkat, kata Kim.

Jembatan Sungai Yalu ini mulai beroperasi sekitar sebulan setelah pembukaan jembatan jalan pertama yang menghubungkan Rusia dan Korea Utara melintasi Sungai Tumen.