Pada Kamis (15/10), kantor berita China, Xinhua, melaporkan bahwa kedua negara telah menggelar seremoni peresmian untuk jembatan baru tersebut. Namun media pemerintah Korut belum merilis laporan apa pun mengenai seremoni tersebut.

Pembukaan jembatan ini menandai kemajuan dalam hubungan bilateral antara Beijing dan Pyongyang, yang sebelumnya juga ditandai dengan dua pertemuan puncak antara para pemimpin kedua negara dalam setahun terakhir.

China sejauh ini merupakan mitra dagang terbesar Korut, bahkan setelah serangkaian sanksi PBB melarang arus barang dan pergerakan pekerja dari dan ke Korut, menyusul langkah negara itu mengembangkan rudal dan senjata nuklir.

Pengamat Lim Eul Chul dari Institut Studi Timur Jauh pada Universitas Kyungnam menilai bahwa jembatan itu "kemungkinan besar tidak akan langsung memicunya kembali perdagangan secara penuh seperti sebelum masa sanksi".

Namun, sebut Lim, jembatan tersebut akan memfasilitasi transportasi alat-alat berat, bahan baku, dan produk energi yang dibutuhkan untuk berbagai proyek pembangunan di Korut.