Mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam, lembaga pengawas madrasah, dan pusat pelatihan guru. Para fasilitator tersebut akan secara langsung menggerakkan komunitas belajar di 34 kota dan kabupaten.
Untuk memastikan peningkatan kapasitas guru berjalan secara terarah, program ini memanfaatkan EnglishScore dari British Council dan Self-Assessment Tool (SAT) atau instrumen penilaian mandiri.
Dua instrumen tersebut digunakan untuk memetakan kemampuan awal Bahasa Inggris dan keterampilan pedagogis guru. Dengan demikian, pengembangan profesional dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing guru, bukan menggunakan pendekatan yang seragam untuk semua.
“Guru tidak hanya membutuhkan pelatihan lain yang berakhir begitu sesi selesai. Kita membutuhkan ruang berkelanjutan untuk mendiskusikan tantangan nyata di kelas, berbagi praktik yang berhasil, dan belajar dari sesama pendidik,” ujar Menag.
Direktur British Council untuk Indonesia sekaligus Direktur Asia Tenggara Summer Xia menjelaskan persiapan menghadapi kebijakan ini bukan sekadar tentang penerapan mata pelajaran baru, melainkan juga tentang membekali guru agar mampu membuka lebih banyak peluang bagi jutaan anak.