Dalam aksi protes di Wina, seorang warga bernama Zehra (37) mengatakan bahwa kedua putrinya, yang berusia 9 tahun dan 13 tahun, merasa "sedih dan marah" terhadap larangan tersebut.

"Kami membesarkan anak-anak kami dengan mengajarkan bahwa mereka bebas menentukan ingin menjadi siapa -- dan aturan hukum ini justru sangat bertolak belakang dengan prinsip tersebut," kata Zehra.

Seham, siswa Muslim berusia 12 tahun, mengakui dirinya "takut" untuk melepas hijabnya di sekolah. "Karena saya sudah mengenakannya selama dua tahun dan hijab itu terasa seperti bagian dari diri saya," ucapnya.

Setelah diskusi dengan pihak sekolah, Seham mengatakan bahwa dirinya diperbolehkan menutupi rambutnya dengan penutup kepala alternatif yang tidak bersifat tradisional. Namun demikian, Seham tetap "lebih memilih untuk mengenakan hijab seperti biasanya".

Menurut data statistik pemerintah tahun 2021, sekitar delapan persen dari sembilan juta penduduk Austria adalah Muslim. Berdasarkan laporan badan HAM Eropa tahun 2024, warga Muslim di Austria mengalami tingkat rasisme dan diskriminasi tertinggi dibandingkan negara-negara Uni Eropa lainnya.