Pengembangan alat tersebut berawal dari pengalamannya selama mengikuti kegiatan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), terkhusus kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan perairan dan budi daya anggur laut atau Caulerpa.

Dari pengalaman tersebut, ia kemudian mencoba menggabungkan pengetahuan yang diperoleh dari bidang kelautan dengan teknologi untuk mengembangkan sistem pemantauan kondisi perairan.

Dalam proses pengembangannya, Sani menghadapi tantangan, karena tidak memiliki latar belakang pemrograman maupun elektronika. Ia merupakan lulusan SMA jurusan Bahasa sebelum melanjutkan pendidikan ke Program Studi Ilmu Kelautan.

Ia kemudian mempelajari pemrograman dari dasar, termasuk penggunaan ESP32 dan sensor, hingga menjalani proses wiring, kalibrasi, pengujian alat, dan debugging.

"Karena aku belajar coding dari nol, proses debugging juga menjadi tantangan tersendiri," kata Sani.