NADIKABAR.COM — Di tengah banyaknya negara yang tetap memilih cara-cara lama dalam mendemonstrasikan kekuatannya, seperti kemampuan militer, Indonesia justru memilih memperkuat posisinya melalui keterlibatan aktif di berbagai forum global maupun regional.
Saat gejolak geopolitik kian memanas dan meluas, Indonesia konsisten menggemakan pentingnya kemitraan damai sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Tidak puas hanya menjadi kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia terus mengembangkan kerja sama bilateral di bidang ekonomi dengan berbagai negara.
Selama dua tahun terakhir, pemerintah berhasil menyelesaikan dan meneken sejumlah perjanjian ekonomi, antara lain Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Indonesia-Canada CEPA, Indonesia-Peru CEPA, hingga Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (FTA).
Indonesia juga memperluas kemitraan regionalnya dengan bergabung dengan BRICS tahun lalu. Negeri Seribu Pulau ini diterima sebagai anggota penuh pada Januari 2025, hanya dua bulan setelah Sugiono – yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri Luar Negeri – menyampaikan keinginan Indonesia untuk bergabung pada Oktober 2024.
Dengan bergabung dalam blok kerja sama internasional yang diprakarsai oleh Afrika Selatan, Brasil, China, India, dan Rusia tersebut, Indonesia berharap dapat meningkatkan kemitraan dengan sesama negara-negara berkembang (South-South cooperation).
Langkah itu untuk mendukung upaya pemerintah dalam memperbanyak tujuan ekspor non-tradisional, terutama ke kawasan Afrika dan Amerika Selatan, mengingat pertumbuhan ekonomi di wilayah Amerika Utara dan Eropa yang cenderung melambat dalam beberapa tahun terakhir.
Meskipun demikian, Indonesia tetap meningkatkan partisipasinya dalam berbagai forum ekonomi yang didominasi oleh negara-negara Eropa dan Amerika Utara, seperti G20, G7, dan World Economic Forum (WEF).
Presiden Prabowo Subianto bahkan hadir sebagai salah satu pembicara utama dalam WEF 2026 yang digelar di Davos, Swiss, pada 22 Januari lalu. Ia memaparkan arah kebijakan ekonomi nasional, capaian satu tahun pemerintahan, serta memperkenalkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia.