NADIKABAR.COM — Menteri Keuangan Suahasil Nazara menekankan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia di tengah prospek positif kawasan ASEAN.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam pertemuan Menteri Keuangan ASEAN dengan Presiden World Bank Group Ajay Banga di Bangkok, Thailand.

Suahasil, sebagaimana dikutip dari keterangan persnya di Jakarta, Selasa, menyampaikan bahwa kawasan ASEAN saat ini merupakan titik terang (bright spot) bagi perekonomian dunia.

"Sebagai kawasan, kami tahu bahwa kawasan kami dalam kondisi baik. Saya yakin ini karena kami memiliki kebijakan pembangunan yang sehat dan kebijakan publik yang kredibel," ujar Suahasil.

Dalam konteks Indonesia, kata dia, APBN selalu ditempatkan sebagai kas negara yang mampu menumbuhkan perekonomian, melindungi masyarakat, dan terus dikelola dengan kredibel.

Menkeu Suahasil menambahkan bahwa Indonesia memiliki kekuatan pada sumber daya alam, didukung agenda hilirisasi dan mobilisasi pendanaan swasta yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Struktur penduduk muda dengan tingkat pendapatan yang terus tumbuh juga disebut menjadi modal penting bagi masa depan kawasan.

"Belajar dari dunia adalah satu hal, tetapi menceritakan kisah ASEAN, kisah Indonesia, kepada dunia adalah hal lain. Kita memiliki banyak cerita untuk disampaikan," ujarnya.

"Saya yakin jika kita satukan kisah ASEAN selama 50 hingga 60 tahun terakhir, itu adalah kisah sukses yang layak didengar dunia," kata dia menambahkan.

Adapun APBN mencetak defisit sebesar Rp319 triliun atau 1,24 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) per 30 September 2026.

Menkeu Suahasil sebelumnya menyatakan kinerja itu bergerak sejalan dengan desain awal (on track) dengan desain awal yang merancang defisit anggaran sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.

Pendapatan negara terealisasi sebesar Rp2.341,5 triliun atau 74,2 persen terhadap target APBN, tumbuh 25,5 persen (year-on-year/yoy).

Sementara belanja negara tersalurkan sebesar Rp2.660,5 triliun, setara 69,2 persen APBN dan tumbuh 19 persen (yoy).