NADIKABAR.COM — Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty mendesak penghentian segera seluruh serangan terhadap wilayah Arab Saudi, dalam percakapan telepon dengan Menlu Iran Abbas Araghchi, Selasa, menurut Kementerian Luar Negeri Mesir.
Dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri Mesir disebutkan bahwa Kedua menteri membahas perkembangan kawasan, ketegangan yang meningkat pesat, serta upaya diplomatik untuk meredakan situasi.
Abdelatty menekankan perlunya segera menghentikan seluruh serangan yang menargetkan Arab Saudi.
“Tidak ada pembenaran untuk serangan-serangan ini dan serangan tersebut tidak dapat diterima,” kata Abdelatty.
Ia menekankan pentingnya mengurangi ketegangan dan mencegah meluasnya eskalasi regional karena dampaknya dapat mengancam keamanan dan stabilitas negara-negara di kawasan maupun di luar kawasan.
Abdelatty juga menyerukan agar solusi politik dan diplomatik diprioritaskan serta Iran dan Amerika Serikat kembali ke meja perundingan dan dialog.
Ia menyebut diplomasi sebagai “satu-satunya jalan” untuk menyelesaikan perselisihan yang masih ada serta mencegah kawasan tersebut terjerumus ke dalam eskalasi dan ketidakstabilan lebih lanjut.
Kantor berita Iran Fars juga melaporkan percakapan tersebut. Menurut laporan itu, Araghchi dan Abdelatty bertukar pandangan mengenai perkembangan terbaru kawasan, termasuk situasi di Yaman dan upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan.
Sebelumnya pada Minggu, Turki, Mesir, Pakistan, dan Arab Saudi mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam serangan terhadap Arab Saudi dan menegaskan dukungan terhadap langkah sah Riyadh untuk menghadapi serta mencegah serangan.
Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah serangan Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh yang menewaskan 13 orang dan melukai 309 lainnya.
Pada September, Kairo menyatakan keamanan nasional Mesir dan Arab Saudi “saling terkait dan tidak dapat dipisahkan”. Mesir juga memperingatkan serangan Houthi yang berkelanjutan dapat memicu ketegangan lebih luas di kawasan.
Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir menghadapi serangkaian serangan terhadap bandara dan fasilitas sipil di tengah meningkatnya konfrontasi militer dengan Houthi.
Eskalasi tersebut dimulai pada Juli setelah periode relatif tenang menyusul gencatan senjata yang dimediasi PBB dan mulai berlaku pada April 2022.
Yaman dilanda konflik sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada September 2014. Kondisi tersebut mendorong koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan