NADIKABAR.COM — Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty pada Selasa mengatakan bahwa Mesir siap memberikan dukungan dalam bentuk apa pun kepada Arab Saudi di tengah meningkatnya serangan Houthi, termasuk kemungkinan dukungan militer.

“Apa pun yang diminta pihak Saudi, tentu kami akan merespons,” kata Abdelatty kepada Bloomberg Television saat ditanya mengenai kemungkinan Mesir memberikan dukungan militer kepada Arab Saudi.

“Tanpa ragu, kami memberikan segala bentuk dukungan,” tambahnya dalam wawancara di sela pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok pada 12-18 Oktober.

Abdelatty juga mengatakan Mesir tengah serius mempertimbangkan untuk bergabung dalam Pakta Pertahanan Bersama Mekah yang saat ini melibatkan Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan.

“Masalah ini sedang dipertimbangkan secara serius oleh pihak Mesir,” katanya.

Pakta tersebut ditandatangani di Mekah pada 7 Agustus oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.

Kesepakatan itu menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari tiga negara akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota pakta.

Turkiye mengatakan kesepakatan tersebut bersifat defensif, tidak menargetkan negara mana pun, serta terbuka bagi negara-negara sahabat lainnya.

Pada 5 Oktober, aliansi tersebut sepakat untuk segera menerapkan komitmen pertahanan bersama menyusul meningkatnya serangan Houthi terhadap Arab Saudi.

Mereka juga sepakat mengambil langkah untuk mempercepat pengerahan pasukan dan kemampuan militer yang telah disepakati ke Arab Saudi.

Pernyataan Abdelatty disampaikan setelah meningkatnya serangan rudal dan pesawat nirawak Houthi terhadap sejumlah bandara dan fasilitas lain di Arab Saudi.

Turkiye, Mesir, Pakistan, dan Arab Saudi pada Minggu mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam serangan tersebut dan menegaskan dukungan terhadap langkah sah Riyadh untuk menghadapi dan mencegah serangan.

Pernyataan itu dikeluarkan setelah serangan Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh yang menewaskan 13 orang dan melukai 309 lainnya.

Pada September, Kairo menyatakan keamanan nasional Mesir dan Arab Saudi “saling terkait dan tidak dapat dipisahkan”. Mesir juga memperingatkan serangan Houthi yang berkelanjutan dapat memicu ketegangan yang lebih luas di kawasan.

Yaman telah dilanda konflik sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada September 2014. Kondisi tersebut mendorong koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan