NADIKABAR.COM — Usai Agus Harimurti Yudhoyono membuat ramai dengan pidatonya tentang kekuasaan beberapa waktu lalu, kini giliran Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mencuri perhatian publik. Dalam pidatonya di acara Dies Natalis FISIP Unpad ke-68, Rabu (14/10) Presiden RI ke-6 itu mengatakan tentang posisi negara harus di atas partai.
Seperti dirangkum NadiKabar, dalam orasi ilmiah itu SBY menekankan pentingnya sikap negarawan bagi para politikus dalam menentukan arah masa depan Indonesia. Menurutnya, kepentingan bangsa dan negara harus ditempatkan di atas kepentingan partai politik. Ia juga menekankan perbedaan antara politisi dengan seorang negarawan.
"Politisi biasanya yang dipikirkan pemilu berikutnya lagi, betul? Kalau gubernur, bupati, wali kota, presiden, semoga terpilih kembali, itu sah, tidak salah, anggota DPR, DPRD, DPD, terpilih kembali, itu tidak salah, politisi," ucap SBY.
Tapi negarawan harus memikirkan masa yang jauh ke depan. Stateman, stateman itu tidak harus mantan presiden, bukan semua bisa menjadi negarawan kalau memikirkan kepentingan bangsa dan negaranya. Country over party (negara di atas partai politik). Country first. Jangan dibalik. Jangan partai politik yang diutamakan. Negaranya belakangan, wrong," lanjut SBY.
Soal pernyataan SBY tentang negara harus di atas partai, sejumlah pihak kemudian melihat kembali bagaimana sistem kepartaian di Indonesia. Pernyataan SBY itu kemudian memunculkan pertanyaan tentang relasi antara partai politik, wakil rakyat, dan kepentingan publik.