Menurut data terbaru IQAir -- lembaga pemantau kualitas udara yang berbasis di Swiss -- yang dirilis pada Selasa (13/10), Singapura tercatat sebagai salah satu dari dua kota besar yang tingkat polusi paling tinggi di dunia, menyusul karhutla di Kalimantan dan Sumatra yang mengirimkan kabut asap ke negara itu.

Dalam pernyataan pada Senin (12/10) malam, maskapai Firefly mengumumkan bahwa penangguhan penerbangan antara Bandara Sultan Abdul Aziz Shah di dekat Kuala Lumpur dan Bandara Seletar di Singapura, yang berlangsung sejak Sabtu (10/10), diperpanjang sebagai "langkah keselamatan proaktif".

"Mengingat situasi cuaca yang terus berubah, Firefly memantau perkembangan situasi secara cermat. Informasi terbaru mengenai jadwal penerbangan akan disampaikan secara langsung kepada para pelanggan yang terdampak," sebut pernyataan tersebut.