NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah berpotensi menjadi pusat pendidikan dokter spesialis jantung sebagai bagian dari upaya pemerintah menambah jumlah dokter spesialis di Indonesia.

"Kami senang bahwa rumah sakit di Kudus ini akan menjadi pusat pendidikan dokter spesialis jantung. Tadi kami melihat kelengkapannya dan jumlah pasiennya sudah ribuan, artinya kualitasnya sudah sangat bagus. Saya rasa RSUD Kudus ini salah satu RSUD percontohan," ujarnya saat meninjau pelayanan kesehatan di RSUD Kudus, Selasa.

Ia menjelaskan kunjungan tersebut bertujuan melihat kualitas pelayanan rumah sakit sekaligus mengevaluasi kesiapan fasilitas kesehatan daerah dalam mendukung program prioritas pemerintah, termasuk pemenuhan kebutuhan dokter spesialis.

Menurut dia Indonesia masih membutuhkan tambahan dokter ahli di berbagai bidang. Karena itu, pengembangan rumah sakit sebagai pusat pendidikan dokter spesialis menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan ketersediaan tenaga medis sekaligus memperkuat pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Selain meninjau pelayanan rumah sakit, Benjamin juga melihat fasilitas penanganan tuberkulosis (TBC) di poliklinik terkait.

Ia mengatakan pemberantasan TBC menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengingat tingginya beban kasus penyakit tersebut di Indonesia.

Ia menilai fasilitas penanganan TBC di rumah sakit tersebut sudah sangat baik. Pemerintah terus mendorong peningkatan kemampuan fasilitas kesehatan dalam mendeteksi dan menangani penyakit menular tersebut.

Dalam kunjungan itu, Benjamin juga menyoroti pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Jawa Tengah karena menjadi salah satu daerah dengan cakupan pelaksanaan CKG tertinggi secara nasional, dengan sekitar 18 juta penduduk telah mengikuti pemeriksaan hingga bulan ini.

Ia menyebut program pemeriksaan kesehatan yang didorong pemerintah daerah turut mendukung peningkatan jangkauan layanan kesehatan preventif kepada masyarakat.

Benjamin menegaskan tantangan pelayanan kesehatan di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan pengobatan, tetapi juga pencegahan penyakit. Karena itu, masyarakat diminta memanfaatkan program CKG untuk mengetahui kondisi kesehatan sejak dini.

"Minimal setahun sekali masyarakat harus memeriksakan kesehatannya. Apalagi yang memiliki hipertensi harus rutin periksa, begitu juga yang memiliki gula darah tinggi, karena komplikasi-komplikasi itu bisa dicegah," ujarnya.

Ia mengatakan pemerintah menargetkan peningkatan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari sekitar 74 tahun menjadi 76 tahun pada 2029. Target tersebut diharapkan tercapai melalui peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, deteksi dini, dan pencegahan penyakit.

Benjamin menambahkan secara nasional lebih dari 105 juta orang telah mengikuti program CKG. Media diharapkan turut menyosialisasikan program tersebut agar semakin banyak masyarakat memeriksakan kesehatan sebelum mengalami gangguan kesehatan yang lebih serius.

"Pemerintah ingin masyarakat datang untuk cek kesehatan, bukan ketika sakit, tetapi untuk mencegah sakit," ujarnya.