Meskipun bernilai positif bagi pembentukan karakter kemandirian siswa, penerapan skema prasmanan ini juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait durasi waktu istirahat yang menjadi lebih singkat.
"Sejauh ini kondusif, cuma di sini memerlukan waktu lebih lama, 30 menit dari MBG yang sebelumnya karena anak yang lain selain kelas 5-6 langsung pakai ompreng," ujarnya.
Waktu pelaksanaan yang lebih panjang ini membuat durasi istirahat siswa menjadi sangat terbatas karena jam pelajaran berikutnya harus segera dimulai pukul 10.00 Wita.
"Iya, ngepas, kadang-kadang anak-anak ya tidak bisa istirahat, kurang jam istirahat jadinya karena waktu belajarnya sudah mulai jam 10,” ucapnya.
Meski masih ada tantangan, dari segi kualitas penyajian, menu makanan yang disajikan dengan skema prasmanan dinilai terasa lebih segar dibandingkan menggunakan wadah ompreng yang langsung diberikan dapur.
Hal tersebut juga dirasakan oleh Made Bagus Canendra Widi Putra, seorang siswa kelas 5 yang turut ambil bagian sebagai petugas pembagian makanan.