NADIKABAR.COM — Diperkirakan 11,4 juta orang di seluruh dunia mengidap demensia pada tahun 2023, dengan jumlah kasus baru diproyeksikan meningkat menjadi 24,7 juta per tahun pada tahun 2050, menurut sebuah studi internasional yang dipimpin oleh Australia.

Penelitian yang dipimpin oleh para peneliti di Center for Healthy Brain Ageing (CHeBA) di Universitas New South Wales, Australia, itu menganalisis data dari 38.418 orang yang mencakup 22 kajian berbasis populasi di 18 negara dan wilayah, ungkap pernyataan CHeBA pada Selasa (13/10).

Penelitian tersebut, yang telah diterbitkan dalam jurnal JAMA Neurology, menyajikan tolok ukur global baru untuk memahami seberapa sering kasus demensia baru muncul di berbagai populasi dan membantu menjelaskan lanskap demensia global yang terus berubah. Penelitian itu menemukan bahwa angka kejadian demensia lebih tinggi di kalangan perempuan dibandingkan laki-laki, yaitu 10,6 kasus per 1.000 orang per tahun dibandingkan 8,6 kasus di kalangan laki-laki. Angka tersebut juga jauh lebih tinggi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, yakni mencapai 13,6 kasus per 1.000 orang per tahun, dibandingkan dengan 8,3 kasus di negara-negara berpenghasilan tinggi. Demensia saat ini diderita oleh lebih dari 57 juta orang di seluruh dunia, dengan penelitian sebelumnya memproyeksikan jumlah penderita kondisi ini akan mencapai sekitar 150 juta pada 2050, menurut penelitian tersebut. "Angka kejadian yang lebih tinggi yang kami amati di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah sangat memprihatinkan karena wilayah-wilayah ini sedang mengalami penuaan populasi yang pesat, padahal mereka sering kali memiliki sumber daya paling sedikit untuk pencegahan, diagnosis, dan perawatan," ujar Prof. Perminder Sachdev, penulis senior sekaligus salah satu direktur CHeBA. Para peneliti menyatakan bahwa penelitian itu tidak menetapkan alasan di balik perbedaan berdasarkan jenis kelamin atau tingkat pendapatan, yang mungkin mencerminkan kombinasi dari faktor kesehatan, sosial, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan, demikian Xinhua.