"Pak TA Khalid telepon saya ya. Telepon sambil agak menangis gitu. Prihatin dan kasihan sama saya. Di momen itu ya, Pak Khalid ya, Kakanda saya, di momen 1 bulan pertama saya jadi Kepala BGN, tidak banyak orang telepon saya either memberi either menawarkan bantuan atau paling tidak berempati, nggak banyak," cerita Sudaryono.

"Abang ini di saat saya lagi galau, gundah, kantong mata saya tebal sebelah sini terus uban saya tambah banyak, Abang ini telepon saya di momen yang memang kawan di saat susah itu adalah kawan sejati," sambung dia.

Sudaryono juga mengaku tak menutup mata tentang persoalan yang ada di BGN. Dia tak masalah jika memang ada pelanggaran pada dapur SPPG dan diunggah di sosial media.

"Kalau kontennya memang ada temuan misalnya ada menu yang nggak bagus, ada kemudian ada dapur yang pengolahan limbahnya nggak bagus, laporkan di socmed kan nggak ada masalah. Begitu kita temui langsung saya tutup, langsung saya periksa, saya tutup kalau perlu," tegasnya.

Selain mengenang masa-masa awal di BGN, Sudaryono berbicara tentang loyalitas masyarakat Aceh yang. Dia juga menyinggung keberhasilan program pompanisasi pertanian di Aceh yang digulirkan sejak dia menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian.