"Karena kadang sungai itu kita bikin belakang kita, segala comberan segala sampah kita buang di situ. Betapa kita tidak bertanggung jawab. Nah ini yang harus kita rubah," tambahnya.

Untuk mengatasi krisis peradaban ini, penanganan kini disasar secara masif mulai dari tingkat menengah. Edukasi dan kedisiplinan pemilahan diwajibkan dari lingkup perkantoran, pasar, sekolah, mal, rumah sakit, hingga rumah tangga.

Kunci utamanya adalah memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya. Sampah organik diselesaikan di tempat, sedangkan anorganik didaur ulang menjadi energi bernilai ekonomis.

Di sisi lain, pemerintah juga bergerak cepat mengatasi 24 hingga 30 titik darurat sampah berskala raksasa. Area pembuangan terbuka (open pit) seperti Bantar Gebang ditargetkan tuntas dalam dua tahun.

Tumpukan sampah tersebut akan diubah menjadi sumber listrik melalui fasilitas pengolahan energi modern. Proyek di Bekasi misalnya, dirancang mampu mengolah 1.500 ton sampah per hari untuk mengaliri listrik bagi 100.000 rumah.