Gangguan ini terjadi saat negara tersebut menjadi tuan rumah bagi dua konferensi besar di bidang energi dan investasi Saudi. Pihak Saudi sendiri menyatakan berbagai agenda internasional tetap berjalan sesuai jadwal dan meyakinkan para pesertanya bahwa Saudi aman.

Kerajaan tersebut, yang sedang bersiap menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2034, telah lama berupaya mempromosikan diri sebagai destinasi yang aman untuk berbagai acara besar, pariwisata global, dan investasi.

Analis konflik dan penasihat di European Institute of Peace, Hisham al-Omeisy, memprediksi kelompok Houthi akan meningkatkan serangan hingga menyasar jaringan pipa minyak dan fasilitas energi. Dia juga menilai Houthi terus menyerang bandara karena kuatnya 'respons publik' terhadap serangan pada target-target semacam itu.

"Houthi telah melakukan eskalasi secara besar-besaran, mereka telah melampaui batas itu, mereka memiliki kerangka kerja dan perhitungan sendiri, dan berhenti hanya pada serangan terhadap bandara sipil bukanlah bagian dari perhitungan tersebut," ujar al-Omeisy.

Dia mengatakan Houthi menganut pendekatan maksimalis. Dia menilai Houthi ingin menekan Saudi dengan serangan-serangan itu.

"Mereka adalah kelompok yang menganut pendekatan maksimalis dan mereka akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mencapai tujuan mereka. Termasuk lebih banyak konsesi dari pihak Saudi," kata analis tersebut.

Sementara, BBC melaporkan Houthi menyatakan tindakan mereka merupakan balasan atas apa yang mereka sebut sebagai blokade Saudi terhadap pelabuhan dan bandara di wilayah mereka serta serangan udara di Bandara Sanaa yang mereka tuduh dilakukan oleh Saudi. Pemerintah Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, dengan alasan bahwa mereka berupaya mencegah pendaratan pesawat Iran yang tidak memiliki izin.

The Guardian melaporkan penentuan waktu serangan Houthi ini sebagian didorong oleh kesempatan. Namun, hal itu juga dinilai berakar pada dinamika konflik di kawasan Teluk.

Arab Saudi telah menjadi sasaran kelompok Houthi karena dukungan kerajaan itu terhadap pemerintah Yaman yang diakui PBB. Houthi disebut menyerang infrastruktur minyak dan bandara di ibu kota Saudi karena fasilitas itu telah menjadi simbol utama integrasi internasional serta masa depan ekonomi Saudi.

Houthi dianggap ingin menunjukkan konsekuensi dari pilihan Riyadh.