JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT Pertamina (Persero) memprediksi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan LPG 3 kg bakal melebihi batas atau jebol hingga akhir 2026.
Sebab, realisasi konsumsi hingga pertengahan tahun meningkat dari tahun sebelumnya.
Direktur Jenderal Migas ESDM Laode Sulaeman mengatakan kuota LPG 3 kg ditetapkan sebesar 8 juta MT dalam APBN 2026. Namun, pemerintah memprediksi konsumsi sampai akhir tahun akan mencapai 8,6 juta MT, artinya melebihi kuota 600 ribu MT atau 7,5 persen.
"Kalau kita perhatikan di sini memang secara umum konsumsi LPG kita itu dari tahun ke tahun terus meningkat. Untuk 2026 ini memang prognosanya itu sebesar 8,6 juta ton LPG," ujar Laode dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8).
Senada, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga sekaligus Direktur Utama Subholding Downstream Pertamina Mars Ega Legowo menyebutkan kelebihan konsumsi dari yang ditetapkan juga terjadi pada BBM Pertalite dan Solar.
"Dengan tren konsumsi saat ini, prognosa kami hingga akhir tahun menunjukkan potensi penyaluran di atas kuota dan tentunya data ini akan terus bergerak dan kami terus berkolaborasi dengan Kepala BPH Migas dan jajarannya," jelas Mars Ega.
Mars Ega menyebutkan per akhir Juli, realisasi Solar mencapai 11,18 juta kiloliter dari kuota 18,36 juta kiloliter. Pertalite mencapai 16,54 juta kiloliter dari kuota 28,69 juta kiloliter.
Sementara, minyak tanah berjalan sesuai dengan kuota, dan LPG 3 kilogram mencapai 5,05 juta metrik ton dari kuota 8 juta metrik ton sepanjang 2026.
"Data yang kami miliki adalah sekitar 9,4 persen (kelebihan kuota) untuk Solar, 1,7 persen untuk Pertalite, dan 8,5 persen untuk LPG 3 kilogram. Namun data ini masih terus bisa bergerak," terangnya.
Ia menjelaskan kenaikan konsumsi Solar dan Pertalite sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional di semester I-2026 yang berada di kisaran 5 hingga 5,6 persen yang didorong oleh pertumbuhan sektor industri dan logistik termasuk kegiatan ekspor-impor, hingga pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi.
"Kami juga mencatat kebutuhan tambahan dari sektor transportasi publik. Untuk LPG 3 kilogram, pendorong utamanya adalah pertumbuhan penduduk nasional serta pertumbuhan ekonomi yang serupa, dan kebutuhan menjaga ketersediaan menjelang periode Natal dan Tahun Baru di akhir tahun ini," pungkasnya.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.