Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Internasional

Kronologi Trump Kembali Sewot dengan Kanada

NadiKabar Biro
Kronologi Trump Kembali Sewot dengan Kanada
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Kronologi Trump Kembali Sewot dengan Kanada.

JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali bersitegang dengan Kanada setelah kedua negara hampir mencapai kesepakatan dan justru berakhir dengan perang dagang.

Ketegangan memanas setelah Kanada memberlakukan tarif hingga 50 persen terhadap ratusan produk AS pada Selasa (25/8).

Sehari setelah tarif berlaku, Trump menyebut Kanada sebagai "salah satu negara terburuk di dunia untuk diajak berurusan".

Perdana Menteri Kanada Mark Carney kemudian menyebut Trump berusaha "menghancurkan" industri otomotif negaranya.

Padahal, beberapa hari sebelumnya, kedua negara dilaporkan hampir mencapai kesepakatan.

Kedua negara saling menyalahkan atas kegagalan negosiasi yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir.

Kanada awalnya tertarik mendapatkan pengurangan tarif tinggi AS terhadap baja, aluminium, dan mobil.

Pemerintah Kanada mengklaim kedua pihak sempat mencapai kesepakatan awal untuk menurunkan tarif baja dan aluminium dari 50 persen menjadi 25 persen. Namun, kesepakatan tersebut kemudian mengalami kemunduran.

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dilaporkan mendapat lobi dari produsen baja dan aluminium AS untuk mempertahankan tarif yang berlaku.

Lutnick juga menentang pengurangan tarif terhadap mobil dan truk. Penolakan tersebut membuat sejumlah bagian lain dari rancangan kesepakatan ikut runtuh.

Kanada sebelumnya menawarkan pembukaan kembali pembahasan proyek pipa minyak Keystone. Proyek tersebut dibatalkan Presiden AS Joe Biden pada 2021.

Namun, ketika kesepakatan mengenai tarif baja, aluminium, dan otomotif tidak tercapai, Kanada menarik kembali tawaran mengenai Keystone dari perundingan.

AS juga meminta Kanada mencabut kebijakan sejumlah provinsi yang menarik minuman keras AS dari rak toko. Akibatnya, penjualan minuman keras AS di Kanada anjlok.

Namun, Kanada akhirnya tidak memberikan konsesi tersebut karena perundingan mengenai tarif logam dan otomotif tidak mengalami kemajuan.

Salah satu faktor penting dalam runtuhnya negosiasi perdagangan kedua negara adalah keputusan Trump menggunakan ketentuan dalam Undang-Undang Tarif 1930 atau Smoot-Hawley.

Para ekonom mengatakan Undang-Undang tersebut memperpanjang masa Depresi Besar.

Kebijakan tersebut memicu perang dagang global. Selain itu, diikuti pembalasan dari negara lain serta menurunnya produk domestik. Saat itu, perdagangan AS turun dua pertiga dari tahun 1929-1932.

Salah satu ketentuan dalam Undang-Undang tersebut adalah Pasal 338. Aturan itu memberikan kewenangan kepada presiden AS untuk mengenakan tarif sepihak sebesar 50 persen terhadap produk negara asing jika negara tersebut dianggap melakukan diskriminasi terhadap produk AS.

Namun, pasal tersebut hampir tidak pernah digunakan sejak diberlakukan.

Trump kemudian menghidupkan kembali ketentuan tersebut pada Juli. Saat itu, Trump mengancam akan mengenakan tarif 50% terhadap Kanada karena menilai kebijakan perdagangan Kanada "mendiskriminasi" produk AS.

Setelah negosiasi perdagangan gagal, Trump menindaklanjuti ancaman tersebut.

AS mengenakan tarif hingga 50 persen terhadap ekspor Kanada senilai sekitar US$20 miliar.

Berdasarkan Pasal 338 Undang-Undang Smoot-Hawley, tarif tersebut menyasar berbagai produk, termasuk suku cadang otomotif, produk kehutanan, furnitur, tekstil, wiski, dan peralatan hoki.

Nilai barang yang terkena tarif tersebut mencapai sekitar 4 persen dari total ekspor Kanada ke AS.

Kanada sendiri merupakan pemasok utama barang ke AS. Kanada mengekspor sekitar US$451 miliar ke AS pada 2025, menempati peringkat kedua setelah Meksiko.

Carney kemudian membalas kebijakan Trump dengan mengenakan tarif terhadap produk-produk AS.

Pemerintah Kanada menyiapkan daftar barang AS senilai sekitar US$20 miliar yang akan dikenakan tarif hingga 50 persen.

Kanada memilih sejumlah produk yang berasal dari negara bagian penting di AS. Langkah tersebut dinilai dapat memberikan tekanan politik kepada pemerintahan Trump menjelang pemilihan paruh waktu AS.

Beberapa produk yang menjadi sasaran antara lain keju dari Wisconsin, makanan laut dari Maine, serta mesin cuci dan pengering dari Kentucky.

Perselisihan perdagangan terbaru bukanlah satu-satunya sumber ketegangan antara Washington dan Ottawa.

Sejak kembali menjabat sebagai presiden, Trump berulang kali mengkritik Kanada.

Trump menuduh Kanada "menipu" AS dan menyebut negara tersebut sebagai "salah satu negara terburuk untuk diajak berurusan".

Trump juga berulang kali menyebut kemungkinan menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS.

Pernyataan tersebut membuat banyak warga Kanada marah. Isu itu bahkan ikut menyatukan opini publik Kanada untuk menentang Trump.

Bagi Carney, salah satu persoalan utama dalam perundingan adalah tuntutan baru dari negosiator AS agar kebijakan perdagangan Kanada secara permanen diselaraskan dengan kepentingan AS.

Carney menilai tuntutan tersebut dapat mengurangi kedaulatan Kanada kepada AS, seperti dikutip dari the Conversation.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Kanada memiliki hubungan ekonomi yang sangat erat dengan AS. Karena itu, keputusan Ottawa untuk membalas tarif Trump memiliki risiko besar.

Namun, sikap publik Kanada yang secara luas menolak tekanan Trump memberikan ruang bagi Carney untuk mengambil sikap lebih keras terhadap Washington.

China menjadi salah satu negara lain yang juga berani menghadapi kebijakan tarif Trump secara terbuka.

Perang dagang AS-Kanada juga dapat memberikan dampak langsung kepada konsumen dan perusahaan AS.

Tarif merupakan pungutan yang dibayar importir ketika barang masuk ke suatu negara. Jika biaya tersebut tidak dapat ditanggung perusahaan, sebagian biaya biasanya akan diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga.

Tarif terbaru Trump menyasar sejumlah barang Kanada yang sebelumnya mendapat perlakuan lebih ringan berdasarkan Perjanjian AS-Meksiko-Kanada.

Dampak tarif berpotensi terasa lebih kuat di negara bagian yang memiliki hubungan perdagangan erat dengan Kanada, seperti Maine, New York, Pennsylvania, Ohio, dan Wisconsin.

Michigan juga menjadi wilayah penting karena industri otomotif negara bagian tersebut terhubung erat dengan industri otomotif di Ontario, Kanada.

Perang tarif tidak hanya merugikan importir AS.

Kanada dapat mengurangi pembelian produk AS sebagai respons terhadap tarif Trump. Kondisi tersebut dapat membuat petani dan produsen AS kehilangan sebagian pasar mereka di Kanada.

Dampak tersebut berpotensi terasa di negara bagian yang menjadi basis Partai Republik dan pendukung Trump. Karena itu, kebijakan tarif juga dapat menjadi persoalan politik menjelang pemilihan paruh waktu AS.

Jika tarif terus bertahan hingga pemilu, kenaikan harga dan penurunan ekspor dapat menjadi isu yang digunakan Partai Demokrat untuk menyerang kebijakan ekonomi pemerintahan Trump.

Namun, arah kebijakan Trump masih sulit diprediksi karena presiden AS tersebut dapat mengubah tarifnya sebelum pemilihan paruh waktu maupun sebelum masa jabatannya berakhir pada 2028.

Lebih lanjut, perselisihan AS dan Kanada juga menghidupkan kembali kekhawatiran mengenai perang dagang yang lebih luas.

Sistem perdagangan global setelah Perang Dunia II dibangun untuk mengurangi praktik saling menaikkan tarif yang sebelumnya memperburuk konflik ekonomi antarnegara.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali bersitegang dengan Kanada setelah kedua negara hampir mencapai kesepakatan dan justru berakhir dengan perang dagang.

Ketegangan memanas setelah Kanada memberlakukan tarif hingga 50 persen terhadap ratusan produk AS pada Selasa (25/8).

Sehari setelah tarif berlaku, Trump menyebut Kanada sebagai "salah satu negara terburuk di dunia untuk diajak berurusan".

Perdana Menteri Kanada Mark Carney kemudian menyebut Trump berusaha "menghancurkan" industri otomotif negaranya.

Padahal, beberapa hari sebelumnya, kedua negara dilaporkan hampir mencapai kesepakatan.

Kedua negara saling menyalahkan atas kegagalan negosiasi yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir.

Kanada awalnya tertarik mendapatkan pengurangan tarif tinggi AS terhadap baja, aluminium, dan mobil.

Pemerintah Kanada mengklaim kedua pihak sempat mencapai kesepakatan awal untuk menurunkan tarif baja dan aluminium dari 50 persen menjadi 25 persen. Namun, kesepakatan tersebut kemudian mengalami kemunduran.

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dilaporkan mendapat lobi dari produsen baja dan aluminium AS untuk mempertahankan tarif yang berlaku.

Lutnick juga menentang pengurangan tarif terhadap mobil dan truk. Penolakan tersebut membuat sejumlah bagian lain dari rancangan kesepakatan ikut runtuh.

Kanada sebelumnya menawarkan pembukaan kembali pembahasan proyek pipa minyak Keystone. Proyek tersebut dibatalkan Presiden AS Joe Biden pada 2021.

Namun, ketika kesepakatan mengenai tarif baja, aluminium, dan otomotif tidak tercapai, Kanada menarik kembali tawaran mengenai Keystone dari perundingan.

AS juga meminta Kanada mencabut kebijakan sejumlah provinsi yang menarik minuman keras AS dari rak toko. Akibatnya, penjualan minuman keras AS di Kanada anjlok.

Namun, Kanada akhirnya tidak memberikan konsesi tersebut karena perundingan mengenai tarif logam dan otomotif tidak mengalami kemajuan.

Salah satu faktor penting dalam runtuhnya negosiasi perdagangan kedua negara adalah keputusan Trump menggunakan ketentuan dalam Undang-Undang Tarif 1930 atau Smoot-Hawley.

Para ekonom mengatakan Undang-Undang tersebut memperpanjang masa Depresi Besar.

Kebijakan tersebut memicu perang dagang global. Selain itu, diikuti pembalasan dari negara lain serta menurunnya produk domestik. Saat itu, perdagangan AS turun dua pertiga dari tahun 1929-1932.

Salah satu ketentuan dalam Undang-Undang tersebut adalah Pasal 338. Aturan itu memberikan kewenangan kepada presiden AS untuk mengenakan tarif sepihak sebesar 50 persen terhadap produk negara asing jika negara tersebut dianggap melakukan diskriminasi terhadap produk AS.

Namun, pasal tersebut hampir tidak pernah digunakan sejak diberlakukan.

Trump kemudian menghidupkan kembali ketentuan tersebut pada Juli. Saat itu, Trump mengancam akan mengenakan tarif 50% terhadap Kanada karena menilai kebijakan perdagangan Kanada "mendiskriminasi" produk AS.

Setelah negosiasi perdagangan gagal, Trump menindaklanjuti ancaman tersebut.

AS mengenakan tarif hingga 50 persen terhadap ekspor Kanada senilai sekitar US$20 miliar.

Berdasarkan Pasal 338 Undang-Undang Smoot-Hawley, tarif tersebut menyasar berbagai produk, termasuk suku cadang otomotif, produk kehutanan, furnitur, tekstil, wiski, dan peralatan hoki.

Nilai barang yang terkena tarif tersebut mencapai sekitar 4 persen dari total ekspor Kanada ke AS.

Kanada sendiri merupakan pemasok utama barang ke AS. Kanada mengekspor sekitar US$451 miliar ke AS pada 2025, menempati peringkat kedua setelah Meksiko.

Carney kemudian membalas kebijakan Trump dengan mengenakan tarif terhadap produk-produk AS.

Pemerintah Kanada menyiapkan daftar barang AS senilai sekitar US$20 miliar yang akan dikenakan tarif hingga 50 persen.

Kanada memilih sejumlah produk yang berasal dari negara bagian penting di AS. Langkah tersebut dinilai dapat memberikan tekanan politik kepada pemerintahan Trump menjelang pemilihan paruh waktu AS.

Beberapa produk yang menjadi sasaran antara lain keju dari Wisconsin, makanan laut dari Maine, serta mesin cuci dan pengering dari Kentucky.

Perselisihan perdagangan terbaru bukanlah satu-satunya sumber ketegangan antara Washington dan Ottawa.

Sejak kembali menjabat sebagai presiden, Trump berulang kali mengkritik Kanada.

Trump menuduh Kanada "menipu" AS dan menyebut negara tersebut sebagai "salah satu negara terburuk untuk diajak berurusan".

Trump juga berulang kali menyebut kemungkinan menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS.

Pernyataan tersebut membuat banyak warga Kanada marah. Isu itu bahkan ikut menyatukan opini publik Kanada untuk menentang Trump.

Bagi Carney, salah satu persoalan utama dalam perundingan adalah tuntutan baru dari negosiator AS agar kebijakan perdagangan Kanada secara permanen diselaraskan dengan kepentingan AS.

Carney menilai tuntutan tersebut dapat mengurangi kedaulatan Kanada kepada AS, seperti dikutip dari the Conversation.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Kanada memiliki hubungan ekonomi yang sangat erat dengan AS. Karena itu, keputusan Ottawa untuk membalas tarif Trump memiliki risiko besar. (REUTERS/Stoyan Nenov)

Kanada memiliki hubungan ekonomi yang sangat erat dengan AS. Karena itu, keputusan Ottawa untuk membalas tarif Trump memiliki risiko besar.

Namun, sikap publik Kanada yang secara luas menolak tekanan Trump memberikan ruang bagi Carney untuk mengambil sikap lebih keras terhadap Washington.

China menjadi salah satu negara lain yang juga berani menghadapi kebijakan tarif Trump secara terbuka.

Perang dagang AS-Kanada juga dapat memberikan dampak langsung kepada konsumen dan perusahaan AS.

Tarif merupakan pungutan yang dibayar importir ketika barang masuk ke suatu negara. Jika biaya tersebut tidak dapat ditanggung perusahaan, sebagian biaya biasanya akan diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga.

Tarif terbaru Trump menyasar sejumlah barang Kanada yang sebelumnya mendapat perlakuan lebih ringan berdasarkan Perjanjian AS-Meksiko-Kanada.

Dampak tarif berpotensi terasa lebih kuat di negara bagian yang memiliki hubungan perdagangan erat dengan Kanada, seperti Maine, New York, Pennsylvania, Ohio, dan Wisconsin.

Michigan juga menjadi wilayah penting karena industri otomotif negara bagian tersebut terhubung erat dengan industri otomotif di Ontario, Kanada.

Perang tarif tidak hanya merugikan importir AS.

Kanada dapat mengurangi pembelian produk AS sebagai respons terhadap tarif Trump. Kondisi tersebut dapat membuat petani dan produsen AS kehilangan sebagian pasar mereka di Kanada.

Dampak tersebut berpotensi terasa di negara bagian yang menjadi basis Partai Republik dan pendukung Trump. Karena itu, kebijakan tarif juga dapat menjadi persoalan politik menjelang pemilihan paruh waktu AS.

Jika tarif terus bertahan hingga pemilu, kenaikan harga dan penurunan ekspor dapat menjadi isu yang digunakan Partai Demokrat untuk menyerang kebijakan ekonomi pemerintahan Trump.

Namun, arah kebijakan Trump masih sulit diprediksi karena presiden AS tersebut dapat mengubah tarifnya sebelum pemilihan paruh waktu maupun sebelum masa jabatannya berakhir pada 2028.

Lebih lanjut, perselisihan AS dan Kanada juga menghidupkan kembali kekhawatiran mengenai perang dagang yang lebih luas.

Sistem perdagangan global setelah Perang Dunia II dibangun untuk mengurangi praktik saling menaikkan tarif yang sebelumnya memperburuk konflik ekonomi antarnegara.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Internasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia