Banjarnegara - Dieng kembali menjadi ruang perjumpaan budaya, wisata, dan ekonomi kreatif melalui penyelenggaraan Dieng Culture Festival (DCF) 2026 di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, 28-30 Agustus.
Di tengah rangkaian perhelatan yang identik dengan ritual budaya, musik, dan daya tarik alam dataran tinggi Dieng, aroma kopi ikut mengisi udara dingin kawasan yang berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut tersebut.
Festival Kopi Dieng hadir sebagai salah satu warna dalam DCF 2026. Bukan sekadar pelengkap agenda wisata budaya, festival ini menjadi panggung untuk memperkenalkan kopi Banjarnegara sekaligus mempertemukan pelaku industri kopi dari berbagai daerah di Indonesia.
Di tempat itu, kopi tidak hanya hadir sebagai minuman. Biji kopi menjadi pintu masuk untuk berbicara tentang petani, lingkungan, ekonomi kreatif, kekayaan intelektual, hingga peluang pasar.
Ketua Panitia Festival Kopi Dieng Alif Zen Fahmi mengatakan festival tersebut merupakan hasil kolaborasi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Kopi Arabika Pegunungan Dieng Banjarnegara dengan Ekonomi Kreatif Banjarnegara.
Kolaborasi tersebut dibangun dengan merangkul seluruh elemen dalam ekosistem kopi, mulai dari petani, kelompok tani, pelaku usaha, hingga sektor pengolahan dan penyajian.
Tahun ini Festival Kopi Dieng mengusung tema The Dieng Origin Mountain Coffee. Tema tersebut menjadi penegasan bahwa Banjarnegara memiliki potensi kopi yang layak diperkenalkan lebih luas.
"Kami ingin menegaskan bahwa sebenarnya Banjarnegara memang memiliki kopi dan punya potensi yang cukup bagus," kata Alif Zen Fahmi.
Semangat tersebut diterjemahkan melalui konsep Dieng Coffee Showcase. Pengunjung tidak hanya dapat menikmati kopi arabika yang selama ini lekat dengan kawasan Dieng, tetapi juga mengenal kopi robusta dan liberika dari berbagai wilayah Banjarnegara.
Dieng Coffee Showcase dibagi dalam empat stasiun, yakni Green Bean Station, Roastery Station, Public Cupping, dan Brewing Station.
Green Bean Station memperkenalkan biji kopi, sementara Roastery Station membawa pengunjung melihat proses sangrai. Di Public Cupping, karakter kopi dapat dikenali melalui proses pencicipan, sedangkan Brewing Station memperlihatkan bagaimana biji kopi diolah menjadi minuman melalui beragam teknik penyeduhan.
Rangkaian tersebut membuat pengalaman menikmati kopi menjadi lebih utuh. Pengunjung tidak hanya datang untuk meminum kopi, tapi juga memahami perjalanan yang berlangsung jauh sebelum secangkir kopi tersaji.
Festival kemudian diperluas dengan kehadiran Spice Station yang menampilkan produk rempah Banjarnegara. Sektor kuliner ekonomi kreatif juga membawa kopi susu Dawet Ayu, yang memadukan kopi dengan cita rasa lokal yang telah menjadi bagian dari identitas Banjarnegara.
Dengan demikian, kopi ditempatkan bukan sebagai produk tunggal, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang bersinggungan dengan pangan, budaya, pariwisata, dan produk lokal lainnya.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.