Jakarta - Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan video commerce di Indonesia bisa menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produknya kepada konsumen dengan jangkauan lebih luas.
"Kehadiran media sosial, termasuk over the top (OTT) Youtube bisa menjadi peluang bagi mereka mengenalkan produknya ke konsumen dengan jangkauan lebih luas," ujar Nailul saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Ia melihat terjadi pergeseran pola konsumsi di pasar daring dari yang mengarah ke marketplace, menjadi yang berbasiskan pengalaman dengan media pengantar berupa video ataupun live streaming.
Maka dari itu, konsumen banyak membeli dengan menggunakan media sosial seperti IG, FB, X, ataupun TikTok, bahkan sekarang Youtube untuk melakukan pembelian.
"Mereka melihat barang dan berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung dengan penjual dengan menggunakan media sosial. Ada user experience yang baru ketika masyarakat membeli barang sembari melihat review oleh content creator. Terlebih bagi barang-barang yang memang informasi dari toko di ecommerce masih kurang. Mereka mencarinya melalui media sosial untuk melihat review, bahkan hingga ke Youtube," katanya.
Dengan tingginya penggunaan video di media sosial dan OTT Youtube, sebenarnya memunculkan tingkatan content creator, mulai dari nano, micro hingga ke selebrities.
"Bagi UMKM, kerjasama dengan content creator nano/micro yang penontonnya masih sebatas di daerah, kerja sama merupakan pilihan menarik untuk mengenalkan produknya. Dengan tarif relatif terjangkau untuk content creator nano/micro. Kemudian, bagi UMKM yang mempunyai SDM lebih, pengenalan melalui konten video sendiri, bisa juga dilakukan untuk pengenalan produk plus ada link penjualan," kata Nailul.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonmian) Airlangga Hartarto menyebutkan transaksi video commerce di Indonesia melonjak hampir 90 persen menjadi 2,6 miliar transaksi.
Airlangga mengatakan jumlah penjual daring di Indonesia saat ini mencapai sekitar 800.000 pedagang. Sementara itu, transaksi video commerce telah mencapai 2,6 miliar transaksi atau tumbuh hampir 90 persen.
Video commerce merupakan kegiatan menjual produk melalui konten atau siaran video, sementara proses pembeliannya dilakukan secara online. Contohnya, pedagang melakukan live streaming di platform e-commerce.
Praktik tersebut kini banyak dilakukan pedagang di toko fisik dengan memanfaatkan gawai untuk melakukan penjualan secara langsung melalui kanal digital.
Menurut Airlangga, perkembangan video commerce menunjukkan semakin menyatunya aktivitas perdagangan secara daring dan luring.
Meski sektor offline masih mendominasi sekitar dua pertiga perdagangan, Airlangga menyebut transaksi melalui e-commerce telah mencapai sekitar sepertiga.
Pertumbuhan tersebut dinilai menjadi peluang besar bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk mempercepat transformasi digital.
Pertumbuhan video commerce juga didukung tingginya jumlah pengguna media sosial di Indonesia yang telah menembus lebih dari 180 juta. Jumlah tersebut terus tumbuh sekitar 26 persen per tahun.
Airlangga menilai perkembangan teknologi digital tersebut menjadi momentum bagi pelaku industri dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lokal untuk melakukan transformasi ekonomi secara lebih inklusif.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.