Jakarta - Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN) menekankan diagnosis kanker bukanlah akhir dari segalanya, melainkan dapat ditangani secara optimal melalui diagnosis yang tepat, terapi presisi, dan pelayanan kesehatan multidisiplin yang komprehensif.
Sekretaris II PERHOMPEDIN Cabang Jakarta, dr. Eka Widya Khorinal di Jakarta, Jumat, mengatakan bahwa pengobatan kanker memerlukan kolaborasi lintas disiplin ilmu dan instansi dengan menempatkan pasien sebagai pusat pelayanan.
"Dengan diagnosis yang tepat, terapi yang tepat, dan pelayanan yang komprehensif, semakin banyak pasien memiliki kesempatan untuk memperoleh hasil pengobatan yang lebih baik," kata dia.
Untuk itu, PERHOMPEDIN mendorong penguatan kolaborasi multidisiplin dan pelayanan komprehensif dalam penanganan penyakit kanker melalui gelaran The 13th Annual Roll-out Of International Conference On Hematology & Medical Oncology (ROICAM 13).
Simposium kedokteran dan forum ilmiah tahunan tersebut mengusung tema "Strength in Diversity, Excellence in Care: Because Cancer Is Not the End of Everything" untuk mempertegas bahwa diagnosis kanker dapat ditangani secara optimal jika seluruh pihak bekerja bersama.
Eka menjelaskan bahwa kolaborasi menjadi penting mengingat penanganan kanker di Indonesia menghadapi tantangan besar, sebagaimana data GLOBOCAN 2022 mencatat 408.661 kasus baru dan 242.988 kematian.
Sehingga dengan demikian pihaknya berada dalam satu pandangan yang sama kalau tanpa perubahan strategi, Rencana Kanker Nasional 2024-2034 memproyeksikan beban kasus kanker dapat meningkat hingga 63 persen pada periode 2025-2040.
"Kondisi tersebut diperberat oleh tingginya angka keterlambatan diagnosis, di mana Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 80 persen pasien kanker di Indonesia baru terdiagnosis saat sudah memasuki stadium III atau IV," cetusnya.
Menghadapi kompleksitas penyakit yang berdampak sistemik pada organ tubuh itu maka, dia menekankan bahwa di sinilah pendekatan ilmu penyakit dalam dan penanganan multidisiplin menjadi kunci utama untuk menjaga kestabilan organ, mengendalikan komplikasi, serta mendampingi pasien selama masa terapi.
Guna merobohkan berbagai hambatan dalam penanganan kanker mulai dari kesenjangan akses antarwilayah, keterbatasan SDM, hingga pembiayaan PERHOMPEDIN mendorong penguatan kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat melalui semangat kolaborasi lintas profesi.
"Melalui integrasi layanan kesehatan yang merata dan riset berbasis data nasional, Indonesia diharapkan dapat mentransformasi penanganan kanker dari sekadar mengobati tumor menjadi pelayanan holistik yang mempertahankan kualitas hidup pasien," imbuhnya.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.