Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Gambaran Kronologi Banjir Nepal: Es Raksasa Jatuh Bikin "Gempa" M5,2

NadiKabar Biro
Gambaran Kronologi Banjir Nepal: Es Raksasa Jatuh Bikin "Gempa" M5,2
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Gambaran Kronologi Banjir Nepal: Es Raksasa Jatuh Bikin "Gempa" M5,2.

Jakarta, CNBC Indonesia - Banjir bandang dahsyat melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, tepatnya di Gyirong pada hari Rabu lalu, 26 Agustus 2026.

Peristiwa yang terjadi sekitar siang hari waktu setempat itu menelan ratusan korban jiwa dan ribuan orang dinyatakan masih hilang, termasuk wisatawan dari berbagai negara. Banjir bandang yang terjadi tiba-tiba menyapu desa di lembah itu membuat warga tak sempat menyelamatkan diri. Dan menyebabkan kondisi medan yang menyulitkan evakuasi.

Di saat pencarian korban hilang masih berlangsung, Nepal dan China memperingatkan potensi banjir susulan di kawasan Himalaya itu. Otoritas penanggulangan bencana Nepal pada hari Kamis mengeluarkan peringatan terkait sebuah danau yang terbentuk setelah material longsor membendung aliran sungai di lokasi banjir.Disebutkan, ketinggian air di danau tersebut terus meningkat sehingga dikhawatirkan dapat menerobos penghalang dan menyebabkan banjir baru. Warga dan tim penyelamat diminta waspada dan berhati-hati, tetap di lokasi aman serta menjauhi tepian sungai dan wilayah berisiko.

Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menjelaskan, rangkaian bencana ini bermula di wilayah elevasi tinggi Pegunungan Himalaya, di mana akumulasi pemanasan suhu atmosfer mempercepat proses dinamika kriosfer secara ekstrem.

"Lelehan es yg meningkat secara intensif menembus celah-celah gletser gantung (hanging glacier) dan terakumulasi di batas antara es dan batuan penopang," katanya, Jumat (28/8/2026).

Air lelehan tersebut, terangnya, menguraikan daya gesek dasar gletser dan melemahkan stabilitas struktural massa es raksasa yang berada di lereng-lereng terjal pegunungan.

Ketidakstabilan tersebut mencapai titik kritis saat massa es padat dan batuan dengan volume masif mengalami keruntuhan mendadak (glacier collapse).

"Terjadilah proses penjatuhan bebas dari ketinggian lebih dari satu kilometer langsung menuju dasar lembah terjal," ujarnya.

"Benturan mekanis berkecepatan tinggi ini melepaskan energi kinetik yang sangat besar, sebanding dengan guncangan tektonik skala sedang (Magnitudo 5,0 - 5,2) yang seketika menghancurkan material es menjadi pecahan mikroskopis, lumpur, dan lelehan air akibat konversi suhu dari gesekan mendadak," jelas Daryono.

Runtuhan es dan material longsoran itulah, sambung dia, yang kemudian menyumbat alur sungai utama di lembah bawah secara mendadak, membentuk struktur bendungan alami (landslide and ice dam).

"Penyumbatan ini menahan aliran alami sungai dan menjebak pasokan air lelehan baru dari hulu. Dalam hitungan jam, terakumulasi danau raksasa sementara di balik benteng debris tersebut, menciptakan tekanan hidrostatik ekstrem yang mendorong dinding penahan alami dari dalam," paparnya.

Ketika struktur penahan yang tak stabil tersebut mencapai batas ketahanan maksimumnya, bendungan debris jebol secara seketika (breach).

Kemudian, lanjut Daryono, pelepasan volume air yang sangat besar dlm waktu singkat ini memicu gelombang banjir bandang (outburst flood) berbentuk dinding air pekat bercampur lumpur, batuan raksasa, dan debris padat.

"Gelombang tinggi ini bergerak ke arah hilir dengan kecepatan amat tinggi, menyebabkan lonjakan muka air sungai yang sangat drastis dlm durasi hitungan menit," tuturnya.

"Daya hancur material aliran debris (debris flow) yang memiliki massa jenis jauh lebih berat daripada air biasa tersebut dengan mudah merobohkan benteng bantaran sungai, menghancurkan jembatan, serta menyapu bersih infrastruktur pemukiman warga di tepi aliran," tambahnya.

Menurut Daryono, minimnya jeda waktu antara jebolnya benteng es dan datangnya gelombang air di kawasan permukiman hilir menyebabkan proses evakuasi tidak sempat dilakukan.

"Yang pada akhirnya memicu timbulnya korban jiwa dan kerusakan lingkungan berskala masif," katanya.

"Fenomena ini menjadi bukti nyata bagaimana perubahan iklim global dapat memicu bencana beruntun (cascading hazard) dari puncak kriosfer hingga menghancurkan kawasan hilir dalam rentang waktu yang sangat singkat," pungkas Daryono.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia