Yogyakarta - Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Edy Martono mengatakan bahwa sawit merupakan salah satu komoditas strategis yang menopang ekonomi Indonesia.
"Perlu diketahui sawit ini adalah penopang ekonomi Indonesia yang luar biasa, bahkan sawit ini sudah menyelamatkan beberapa krisis ekonomi," kata Edy pada Workshop Jurnalistik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)-GAPKI di Yogyakarta, Jumat.
Menurut dia, krisis ekonomi di Indonesia pada 1998, kemudian pada 2008 dan kemudian pada pandemi COVID-19, justru industri sawit Indonesia memecahkan rekor dengan menghasilkan devisa besar mencapai 39,2 miliar dolar AS.
"Kemudian di saat sekarang, saat kondisi global tidak bagus, sawit masih memberikan sumbangan yang luar biasa, jadi artinya dengan keadaan sekarang bahwa ternyata sawit ini memberikan kontribusi yang luar biasa," katanya.
Dia mengatakan, bahkan industri sawit di Indonesia mampu menyerap tenaga kegiatan sangat besar, tercatat sebanyak 16 juta orang telah terlibat dalam industri sawit ini.
"Dan masyarakat Indonesia harus menyadari, kalau kita betul betul sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Tetapi kita kita juga sebagai konsumen minyak sawit terbesar di dunia," katanya.
Dia mengatakan, berbagai produk yang digunakan masyarakat Indonesia terbuat dari olahan sawit, seperti sabun mandi, pasta gigi, sampo dan produk makanan lainnya yang dikonsumsi sehari hari oleh masyarakat.
"Kita tidak sadar dari bangun tidur sampai tidur lagi ketemunya dalam produk sawit, bangun tidur kita cuci muka, gosok gigi, pakai sabun, keramas, kemudian sarapan pagi, kopi, bahkan permen coklat dari sawit," katanya.
Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir mengatakan workshop tersebut penting karena industri kelapa sawit dan pers memiliki tantangan yang sama dalam menghadapi dinamika serta berbagai isu yang berkembang.
"Industri sawit ini adalah industri yang merupakan andalan komoditas Indonesia, yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional dan menjadi andalan ekonomi ekspor Indonesia," katanya.
Munir mengatakan, pers memiliki tanggung jawab untuk menyajikan informasi mengenai industri sawit secara objektif, karena itu pemberitaan tidak boleh sekadar mengedepankan citra positif industri, tetapi harus tetap berpijak pada validitas data dan fakta.
Karena itu, menurut Munir, sinergi pers dan industri harus diarahkan untuk mendorong perbaikan tata kelola sawit agar semakin baik, ramah lingkungan, tidak melanggar hak asasi manusia, serta memperhatikan kesejahteraan tenaga kerja.
Dia mengatakan, wartawan perlu memiliki kedalaman pengetahuan agar mampu melihat persoalan sawit secara menyeluruh.
"Forum ini mencerahkan, mengedukasi, dan memberikan informasi-informasi data serta faktual yang perlu dipahami oleh teman-teman wartawan, sehingga wartawan memiliki kedalaman pengetahuan tentang kelapa sawit," katanya.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.