Istanbul - Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan Teheran akan menargetkan kepentingan ekonomi Amerika Serikat (AS) jika blokade maritim terhadap negara tersebut terus berlanjut.
“Jika blokade terus berlanjut, kami akan menargetkan kepentingan ekonomi AS secara menyeluruh, dengan intensitas dan kekuatan,” kata Rezaei, seperti dilaporkan oleh stasiun televisi pemerintah IRIB pada Kamis.
Rezaei mengatakan bahwa Iran telah “mematahkan blokade maritim” selama gencatan senjata dan mengekspor antara 70 juta hingga 80 juta barel minyak.
Ia menambahkan bahwa penjualan minyak Iran telah kembali ke tingkat sebelum diberlakukannya sanksi.
“Selain mengosongkan stok minyak yang tersimpan di kapal-kapal, kami telah membuka jalur ekspor baru yang secara bertahap terus diperluas,” kata Rezaei.
Mengenai perkembangan di Lebanon, Rezaei mengatakan bahwa Beirut dan wilayah pinggiran selatannya merupakan “garis merah” bagi Teheran.
“Tidak ada pihak yang berhak bergerak menuju Beirut atau wilayah pinggiran selatannya. Kami memantau situasi dengan sangat serius dan penuh perhatian,” ucapnya.
Rezaei menambahkan bahwa Israel akan dipaksa untuk menarik diri dari wilayah-wilayah yang didudukinya di Lebanon.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam pernyataannya di Gedung Putih: “Selat itu terbuka. Selat Hormuz terbuka. Kami mengendalikannya, dan kami melakukan blokade.”
Pada pertengahan Juni, Iran dan AS, dengan mediasi Pakistan dan Qatar, menandatangani nota kesepahaman 14 poin di Islamabad.
Nota kesepahaman tersebut mencakup ketentuan mengenai penghentian permusuhan, pembukaan kembali selat, pencabutan blokade laut AS, serta dimulainya proses negosiasi selama 60 hari.
Teheran menuduh AS gagal melaksanakan sejumlah ketentuan penting dalam nota kesepahaman tersebut dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan sepenuhnya dibuka kembali sampai Washington memenuhi komitmennya.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.