Havana - Pemerintah Kuba mengecam tindakan Amerika Serikat membatasi akses terhadap obat-obatan, perlengkapan medis, dan bahan baku untuk industri biofarma negara Karibia tersebut.
Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez pada Rabu (26/8) menyampaikan bahwa pembatasan terhadap barang-barang esensial tersebut menambah beban dari blokade energi dan sanksi ekonomi AS terhadap Kuba, sehingga semakin memperburuk situasi yang sudah sulit.
Rodriguez menulis dalam sebuah unggahan di platform media sosial X bahwa di tengah penerapan sanksi dan blokade yang semakin intensif, para ilmuwan di Pusat Imunologi Molekuler telah mengembangkan sebuah pengobatan kanker yang berpotensi menjanjikan bernama 2C12, yang memiliki karakteristik serupa dengan pembrolizumab, obat yang digunakan secara internasional untuk merangsang respons sistem kekebalan tubuh melawan sel-sel tumor.
"Pengembangan pengobatan ini merupakan bukti dari upaya para ilmuwan Kuba untuk mencapai kedaulatan di bidang medis, khususnya dalam pengobatan kanker, mengingat penyakit tersebut merupakan salah satu penyebab utama kematian di Kuba," ujar Rodriguez.
Kementerian Kesehatan Masyarakat Kuba telah berulang kali mengecam sanksi-sanksi AS karena menghambat upaya pengobatan kanker dengan membatasi akses terhadap obat-obatan dan pasokan yang dibutuhkan untuk perawatan onkologi serta produksi obat setempat.
Meskipun riset obat-obatan bertujuan menjadikan Kuba lebih mandiri dalam hal produksi farmasi, sanksi yang membatasi akses terhadap bahan baku telah menghambat industri biofarmasi negara tersebut dalam memproduksi obat-obatan yang sangat dibutuhkan.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.