Lumajang, Jawa Timur - Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Semeru yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Lumajang, Jawa Timur menggunakan helikopter water bombing, Jumat.
"Hari ini ada helikopter water bombing yang membantu pemadaman kebakaran hutan di lereng Gunung Semeru di area yang tidak bisa dijangkau dengan jalur darat," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho.
Menurutnya, titik api berada di BIok Ranu Kembang, Ledok Bedor, Bukit Ayak-ayak dan sudah merembet ke arah Ranu KumboIo, sehingga petugas gabungan masih berjibaku memadamkan kobaran api yang muncul di sejumlah blok kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tersebut.
"Dua helikopter milik BPBD Jatim diterjunkan untuk memadamkan kebakaran hutan dengan proses mengambil air untuk water bombing di kawasan danau Ranu pani, sehingga diharapkan titik api di medan yang sulit terjangkau bisa padam," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah III TNBTS Agus Kusuma Negara mengatakan bahwa kondisi medan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi petugas untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan di Gunung Semeru karena kawasan yang terbakar berada di lereng dengan kontur cukup terjal sehingga tidak semua titik dapat dijangkau dengan mudah dengan jalur darat.
"Saat ini seperti yang terlihat asap di wilayah Ayak-ayak. Secara landscape ada dua titik api, di Ayak-ayak dan Pangonan Cilik. Nah, dua itu yang menjadi titik pemadaman saat ini," katanya.
Petugas gabungan hingga kini masih melakukan pemantauan dan penanganan di sejumlah titik untuk mencegah api kembali membesar karena kondisi angin yang kencang dan medan terjal membuat proses pemadaman membutuhkan kewaspadaan serta penanganan berkelanjutan.
Informasi yang dihimpun di lapangan, luas hutan yang terbakar di kawasan Gunung Semeru berkisar 160 hektare, namun jumlah tersebut bisa bertambah karena api juga belum padam hingga Jumat ini.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.