Jakarta - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti mengidentifikasi sejumlah komoditas unggulan Indonesia yang berpotensi meningkatkan ekspor ke Maroko, mulai dari minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk olahannya hingga udang beku.
Roro mengatakan komoditas tersebut saat ini masih memiliki potensi ekspor yang belum terealisasi secara maksimal (unrealized export potential) di pasar Maroko.
"Indonesia memiliki potensi ekspor yang signifikan, namun belum terealisasi ke Maroko untuk produk-produk seperti amonia anhidrat, minyak kelapa sawit mentah dan olahan, besi dan baja setengah jadi, serta udang beku," ujar Roro dalam keterangan di Jakarta, Jumat.
Selain komoditas tersebut, Roro menyebut Indonesia juga berpotensi memperluas ekspor sejumlah produk lainnya seiring dengan penguatan hubungan perdagangan kedua negara.
Di sisi lain, Maroko memiliki peran penting bagi Indonesia dalam memasok sejumlah produk strategis, terutama pupuk dan aluminium.
Roro mengatakan penguatan akses pasar menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong percepatan perundingan Perjanjian Perdagangan Indonesia-Maroko.
Indonesia menargetkan kesepakatan perdagangan tersebut dapat diselesaikan secara komprehensif pada 2027.
Dalam pertemuan tindak lanjut hubungan ekonomi dan perdagangan bilateral Indonesia-Maroko dengan Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Perdagangan Luar Negeri Kerajaan Maroko Omar Hejira secara daring pada Kamis (27/8/2026), Roro menilai reaktivasi perundingan menjadi momentum penting untuk memperluas manfaat ekonomi kedua negara.
"Indonesia siap bekerja sama secara konstruktif dengan Maroko untuk mengakselerasi proses perundingan ini. Momentum ini harus dilihat sebagai peluang bagi kedua negara untuk mewujudkan hubungan politik yang kuat menjadi manfaat ekonomi yang nyata dan berkelanjutan," katanya.
Menurut Roro, proses perundingan akan diarahkan pada penyusunan jadwal kerja yang realistis, melanjutkan negosiasi berdasarkan draf naskah yang telah tersedia, serta menetapkan ambisi akses pasar yang seimbang dan saling menguntungkan.
Ia menilai Maroko memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang bagi produk Indonesia menuju pasar Afrika, Eropa, dan Mediterania. Sebaliknya, Indonesia dapat menjadi pintu masuk bagi produk Maroko untuk menjangkau pasar ASEAN dan kawasan Indo-Pasifik.
Pada 2025, total nilai perdagangan Indonesia-Maroko mencapai 235 juta dolar AS atau melonjak 33 persen dari tahun sebelumnya.
Tren kenaikan ini berlanjut pada lima bulan pertama 2026 (periode Januari-Mei) dengan pertumbuhan mencapai 37 persen secara tahunan hingga menyentuh nilai 180 juta dolar AS.
Ekspor Indonesia ke Maroko pada 2025 menyentuh 154,9 juta dolar AS dengan ekspor utama berupa kopi, ban pneumatik baru, lemak dan minyak hewani dan nabati, margarin dan olahan makanan, serta batu bara.
Sementara itu, impor Indonesia dari Maroko pada 2025 sebesar 80,1 juta dolar AS dengan komoditas utama berupa pupuk mineral atau kimia, pupuk fosfat, alumunium mentah, dan pakaian wanita.
Pada 2021-2025, tren ekspor Indonesia ke Maroko mencatatkan nilai positif sebesar 4,95 persen dan Maroko menjadi negara tujuan ekspor Indonesia ke-74.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.