Jakarta - Umbul-umbul Caruban Nagari Keraton Cirebon yang merupakan simbol kekuasaan sekaligus spiritual memiliki nilai penting bagi Jakarta atau dulunya bernama Sunda Kelapa.Wastra sarat makna itu menjadi saksi kemenangan gemilang panglima perang Fatahillah di Sunda Kelapa atas Portugis.Pada 22 Juni 1527, armada gabungan Kerajaan Islam Cirebon, Demak, dan Banten dengan jumlah 1.967 prajurit di bawah komando Fatahillah berhasil mengusir armada Portugis dari Sunda Kelapa.Di garis depan pertempuran itu, berkibarlah Caruban Nagari.Umbul-umbul Caruban Nagari berbahan katun berwarna putih dan biru dengan salah satu ujung meruncing, memuat kaligrafi singa besar dan kecil serta surah Al-Ikhlas, Al-An'am ayat 103, dan Ash-Shaff ayat 13, ditambah pedang Zulfikar.Kaligrafi singa besar diletakkan di ujung umbul-umbul, menandakan pemimpin besar, di depan pedang dan dikawal dengan dua kaligrafi singa kecil di atas dan bawah kain.Singa kecil di bagian atas diartikan sebagai kelompok yang idealis, berilmu, pemikir, konseptor yang mempunyai semangat tinggi, sementara singa di bawah menjadi simbol kelompok pragmatis.Sementara ayat suci Al Quran pada Caruban Nagari bermakna pertolongan dan kemenangan yang dekat.Selain itu, ada juga ornamen geometris berupa bintang yang bermakna cahaya dan petunjuk, kemudian bunga delapan arah yang melambangkan kehidupan dan kesucian.Setelah hampir 2,5 abad kemudian atau pada 1776, dibuatlah replikasi wastra bersejarah itu, berukuran 322 x 172 cm dibuat menggunakan teknik batik tulis.Kain tersebut lalu disumbangkan Gusti Kanjeng Putri Mangkunegara VIII pada 1976 ke Museum Tekstil Jakarta dan merupakan satu dari 500 koleksi perdana sekaligus salah satu kebanggaan museum.Namun, mengingat usia kain yang sudah tua, koleksi asli kain tidak dipamerkan secara permanen di ruang pamer, melainkan disimpan secara khusus untuk menjaga kelestariannya.Sebagai upaya agar publik dapat melihat wujud umbul-umbul tersebut, Museum Tekstil membuat duplikatnya pada 2011, berukuran 310 x 196 cm.Masyarakat pun bisa menyaksikan koleksi tersebut melalui pameran wastra "Menjaga Warisan untuk Masa Depan" di Museum Tekstil yang berlangsung hingga 30 Agustus 2026. Pameran ini juga diadakan dalam rangka perayaan HUT ke-50 museum dan Himpunan Wastraprema.Caruban Nagari bersanding dengan sekitar 49 koleksi wastra pilihan dan unggulan yang memiliki sejarah bagi bangsa ini dan Museum Tekstil, ditambah 12 koleksi istimewa pionir ragam keindahan ulos, Torang Sitorus.Di antara koleksi tersebut, ada kain panjang Gajah Birawa asal Surakarta, Jawa Tengah. Kain berukuran 250 x 106 cm itu dibuat oleh R.A. Soemoharjomo, ibunda dari Tien Soeharto. Ragam hias pada kain disebut Gajah Birawa terdiri dari motif gajah, kijang, dan burung yang berterbangan di antara lembah.Gajah pada bagian kanan menghadap ke kiri, sementara gajah di bagian kiri menghadap ke kanan, seakan-akan bercermin.Gajah dianggap binatang yang gagah dan perkasa. Dahulu hewan ini merupakan tunggangan raja dan bangsawan.
Pada sisi lain, ada kain panjang Bulu Hayam asal Garut, Jawa Barat, berukuran 264 cm x 105 cm, dibuat tahun 1950-an, yang merupakan hibah dari keluarga Ali Sadikin.Ragam hias Bulu Hayam (bulu ayam) khas Garut ini terinspirasi dari keindahan bulu ayam. Ragam hiasnya disusun secara geometris membentuk lengkungan-lengkungan menyerupai bulu ayam.Bagian dalamnya diberi aneka macam isen-isen--ornamen-- dengan tata warna khas Garut, yakni krem, cokelat, dan biru dan bentuk menyerupai sisik ikan. Motif ini dikenal juga dengan nama Sapu Jagat.
Tak jauh dari kain tersebut, ada kain panjang Tumurun Sri Narendra, asal Surakarta berukuran 250 x 105 cm, hibah dari KRT Hardjonagoro (Go Tik Swan).Kain ini memiliki latar Parang Rusak Gapit karya Go Tik Swan Panembahan Hardjonagoro pada 1978, sebagai pisungsun (hadiah) untuk Sri Susuhunan Pakubuwana XII pada acara jumenengan (penobatan raja) ke-32 (empat windu bertahta).Ragam hiasnya diambil dari lambang kerajaan Surakarta berupa matahari yang menyinari jagad, melambangkan raja harus menjadi teladan bagi rakyatnya.Tak jauh dari sana, ada juga kain panjang Sawunggaling yang menjadi daya tarik visual bagi pengunjung, kata pemandu pameran.Kain asal Surakarta berukuran 256 x 106 cm ini bermotif ayam jago yang sedang bertarung, melambangkan sikap heroik, patriotisme, nasionalisme, dan romantisme.Didominasi warna merah yang terinspirasi dari darah ayam, kain karya adiluhung Go Tik Swan Panembahan Hardjonagoro pada 1950-an tersebut dibuat atas perintah Presiden ke-1 RI Soekarno.Kala itu, Presiden menginginkan batik yang mengandung nilai patriotisme, nasionalisme, dan romantisme.Terciptalah desain batik yang memadukan motif batik klasik dengan pewarnaan pesisiran.Batik pesisiran yang tumbuh di wilayah pantau utara Jawa, seperti Pekalongan, Cirebon, Lasem, dan Madura memiliki motif lebih dinamis dan bebas, memiliki warna cerah serta kuat dipengaruhi budaya luar akibat interaksi dagang dengan Tiongkok, India, Arab, dan Eropa.
Tak hanya batik, pameran juga menghadirkan songket, tapis, dan ulos yang menjadi bukti keindahan ragam wastra Nusantara.Bukan semata mengagumi keindahan wastra karya anak bangsa, pengunjung juga sekaligus mendapat suntikan pemahaman tentang nilai budaya, filosofi, serta perjalanan sejarah yang terkandung dalam setiap helai wastra.Karena setiap wastra menceritakan perjalanan panjang pelestarian budaya yang dibangun melalui semangat gotong royong, kepedulian dan kecintaan terhadap wastra budaya bangsa, seperti disampaikan Kepala Unit Pengelola (UP) Museum Seni, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Sri Kusumawati..Karenanya, terucap harap agar melalui pameran "Menjaga Warisan untuk Masa Depan" ini, masyarakat khususnya generasi muda semakin mengenal dan mencintai wastra warisan budaya bangsa, sehingga semangat pelestarian dapat terus berlanjut di masa mendatang.Di sisi lain, mengutip Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Mochamad Miftahulloh Tamary, pameran ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu generasi.Pelestarian budaya merupakan proses panjang yang membutuhkan komitmen, kolaborasi, dan kepedulian kita bersama.Melalui pameran "Menjaga Warisan untuk Masa Depan", mari mengagumi kekayaan wastra Indonesia sekaligus cerita di baliknya.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.