Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Teknologi

Karyawan Kantoran Gaji Rp 200 Juta/Bulan Pilih Resign Jadi Petani

NadiKabar Biro
Karyawan Kantoran Gaji Rp 200 Juta/Bulan Pilih Resign Jadi Petani
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Karyawan Kantoran Gaji Rp 200 Juta/Bulan Pilih Resign Jadi Petani.

Jakarta, CNBC Indonesia - Ning Boyu, seorang peneliti dari Huawei, memilih resign dan menjadi petani jagung di kebun keluarganya. Ia meninggalkan pekerjaan dengan gaji US$140.000 (Rp2,4 miliar) per tahun tersebut. Jika dibagi per bulan, gajinya sekitar Rp200 juta per bulan.

Ning bergabung dengan Huawei pada 2023 dan menjadi insinyur riset utama setelah terpilih dalam program Top Minds yang dikenal sebagai program Genius Youth.

Gaji yang didapatkan menjadikannya salah satu kelompok penerima penghasilan tertinggi dalam program tersebut.

Setelah sekitar tiga tahun, ia memilih meninggalkan pekerjaannya untuk membantu keluarganya memanen dan menjual jagung di kampung halamannya di Shadong, Provinsi Hunan, dikutip dari VN Express, Jumat (28/8/2026).

Penghasilannya tentu jauh berkurang dari yang didapatkannya di Huawei; ia hanya mendapatkan 10 yuan (Rp 26.300) pada hari pertamanya bertani.

Namun, kenyamanan itu ia tinggalkan karena tekanan kerja. Ia memiliki peran untuk melakukan penelitian dalam jangka panjang, berbeda dari kolega lain yang mengerjakan proyek dengan hasil yang lebih jelas dan nyata.

Hal ini membuatnya merasa terisolasi akibat melakukan penelitian tanpa hasil nyata untuk menunjukkan kinerjanya.

Tak hanya itu, gelar Top Minds yang disandangnya juga menjadi sumber tekanan. Usai bergabung dengan Huawei, Ning menyadari bahwa dirinya belum masuk ke dalam kelompok karyawan yang paling menonjol dalam kemampuan teknis atau kecerdasan, sehingga ia mempertanyakan apakah dirinya pantas mendapatkan label tersebut.

Kekhawatiran lainnya adalah hasil penelitiannya tidak menghasilkan nilai komersial bagi perusahaan. Selain itu, ia juga melihat adanya kesenjangan antara peneliti akademis dan kebutuhan praktis industri.

Ning mengakui sangat menikmati interaksi dengan komunitas akademis setelah mendiskusikan masalah kesenjangan tersebut dengan para profesor dan mahasiswa.

Meski demikian, pekerjaannya sebagai petani sebenarnya bersifat sementara. Ia berencana melanjutkan kuliah setelah mendapatkan beasiswa pascadoktoral Marie Curie serta akan melakukan penelitian di KTH Royal Institute of Technology di Swedia.

Ning juga mengatakan bahwa pekerjaannya di dunia pertanian memberikan pengalaman baru, sekaligus menumbuhkan aspirasi yang lebih dalam terhadap tantangan yang dihadapi oleh orang lain.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Teknologi #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia