NADIKABAR.COM — Sepuluh orang tua korban kasus kekerasan Daycare Little Aresha Jogja mengungkap dampak traumatis yang dialami anak mereka usai dititipkan di daycare tersebut. Kesaksian itu mereka sampaikan dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta, kemarin.
Sidang dengan agenda pemeriksaan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) itu digelar di ruang sidang Nusantara PN Jogja dari pukul 11.30 sampai 18.50 WIB, Rabu (26/8/2026).
Sidang ini menggelar 3 perkara sekaligus. Pertama nomor perkara 194/Pid.Sus/2026/PNYyk dengan terdakwa 11 pengasuh yakni FN (30), NF (26), Lis (34), EN (26), SRm (54), DR (32), HP (47), ZA (30), SRj (50), DO (31), dan DM (28).
Perkara kedua, nomor perkara 195/Pid.Sus/2026/PNYyk dengan terdakwa Ketua Yayasan yang menaungi daycare yakni DK (51). Perkara ketiga, nomor perkara 196/Pid.Sus/2026/PNYyk dengan terdakwa Kepala Sekolah dan AP (42).
Pemeriksaan saksi digelar dua sesi. Sesi pertama memeriksa salah satu orang tua korban yang juga berperan mengkoordinasi pengawalan kasus ini, yakni ibu berinisial ID. Sesi kedua menghadirkan 9 saksi lain selaku ortu korban yang keterangannya dianggap hampir serupa.
Para saksi ditanyai berbagai pertanyaan berkaitan dengan pemilihan Little Aresha sebagai tempat penitipan, hingga berbagai perubahan baik psikis maupun fisik anak setelah dititipkan di Daycare Little Aresha.
Dari keterangan para saksi, diketahui para korban mengalami perilaku yang hampir sama sejak dititipkan, yaitu gemar menyakiti diri sendiri. Saksi ID menyebut anaknya kerap melukai diri dan sering mengikat tangan dan kakinya sendiri.
"Ya itu memukul, mencubit. Terus setelah saya amati itu, B (menyebut nama anak) suka main ikat-ikat, ikat kakinya, ikat tangannya," kata saksi ID dalam persidangan, Rabu (26/8/2026).
Saat masih dititipkan di Little Aresha, ID juga mengaku kerap menemukan luka lebam hingga luka goresan di tubuh anaknya. ID pun sering menanyakan perihal luka tersebut kepada admin daycare.
"Luka lebam, goresan, itu tiap bulan pasti ada. Entah 1-2 pasti ada. Saya sudah beberapa kali konfirmasi lewat chat WA, pernah beberapa kali menanyakan langsung," ujar ID.
"(Jawaban dari pengasuh) Selalu dibenturkan ke anaknya. Pernah sekali di pelipis ada benjol di tengahnya ada (luka) goresan, (penjelasan pengasuh) itu katanya anaknya lari, jatuh, terus kepentok lego," imbuhnya.
Keterangan serupa juga disampaikan 9 saksi lainnya yang kejadiannya hampir mirip. Salah satunya saksi inisial AN. Ia juga mengatakan anaknya kerap menyakiti diri sendiri.
"Sekitar sebulan sebelum penggerebekan itu juga ada kecenderungan memukul dan membenturkan kepala (sendiri). Kemudian anak kami kalau selimutan, caranya itu seperti ini (memperagakan cara membedong)," kata AN.
Perilaku anak yang suka memukul dan membenturkan kepala sendiri juga disampaikan mayoritas saksi lainnya. AN juga kerap menjumpai luka lebam di tubuh anaknya saat masih dititipkan di Daycare Little Aresha.