"Sehingga ada dapur-dapur yang berdiri sebelahnya kandang babi, yang saya sampaikan tadi di bawah masak, di atas sarang burung walet. Ini insane, ini gila. Ini nggak bisa diteruskan, ini menurut saya ini adalah demonstrasi kebodohan," ujar Sudaryono.

"Maka di era kita, kita sisir semua sehingga kami dengan SLHS tadi kami telah menutup dapur kira-kira lebih dari 2.000 dapur yang tidak memiliki syarat kelayakan higienis dan sanitasi. Nnggak punya, tutup," sambungnya.

Sudaryono menyoroti praktik Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang dipalsukan. Sejauh ini, kata dia, sudah lebih dari 2.000 dapur ditutup secara permanen.

"Ada juga praktik-praktik misalnya SLHS-nya ternyata palsu, ada. Ada. Tapi ya itu semua sekarang diperiksa polisi semua yang palsu yang dan lain sebagainya. Intinya punya SLHS saja, punya sertifikasi laik higienis dan sanitasi, punya sertifikatnya saja itu belum tentu dapurnya layak, apalagi tidak punya. Jadi, yang tidak punya kami tutup. Bahkan kami sudah menutup lebih dari 2.000 dapur secara permanen karena terkait urusan higienis dan sanitasi ini," ujarnya.