NADIKABAR.COM — Musim kemarau mulai memberi dampak serius terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Ciamis. BPBD Kabupaten Ciamis mencatat kekeringan telah berdampak pada warga di 15 kecamatan, 22 desa, dan 38 dusun.

Berdasarkan rekap data kekeringan dan distribusi air bersih BPBD Ciamis tahun 2026, sedikitnya 4.323 kepala keluarga (KK) atau 11.160 jiwa terdampak kekeringan. Untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, BPBD telah menyalurkan 255.000 liter air bersih melalui 45 tangki distribusi.

Distribusi tersebut dilakukan secara bertahap. Pada Juli 2026, BPBD menyalurkan 85.000 liter air melalui 12 tangki. Memasuki Agustus, jumlah bantuan meningkat menjadi 170.000 liter yang dikirim menggunakan 33 tangki.

Kondisi kekeringan tersebar di sejumlah wilayah dengan tingkat dampak yang berbeda-beda. Kecamatan Banjaranyar menjadi salah satu wilayah dengan jumlah warga terdampak cukup besar, disusul Panawangan, Banjarsari dan Tambaksari.

Di Kecamatan Banjaranyar, kekeringan tercatat terjadi di Desa Banjaranyar, Cigayam, Cikaso dan Kalijaya. Di Desa Banjaranyar, warga terdampak berada di Dusun Banjaranyar dan Bulaksitu dengan total 811 jiwa. Sementara di Desa Cigayam, kekeringan melanda Dusun Purwasari, Sidamulya dan Sukadana dengan total 752 jiwa.

Kemudian di Desa Cikaso, terdapat tiga dusun yang terdampak, yakni Cikaso, Sukapura dan Karangsari dengan total 305 jiwa. Sedangkan Desa Kalijaya mencakup Dusun Wanarasa dan Kaligamping dengan jumlah terdampak mencapai 1.265 jiwa. Kecamatan Banjaranyar total mencatat sekitar 3.133 jiwa terdampak kekeringan.

Di Kecamatan Banjarsari, dampak kekeringan tercatat di Desa Kawasen, Cibadak dan Cicapar. Desa Kawasen meliputi Dusun Panamun, Sumanding dan Pesantren Al Hasan dengan sedikitnya 977 jiwa terdampak. Desa Cibadak di Dusun Cibeureum tercatat 363 jiwa, sedangkan Desa Cicapar di Dusun Kembaran sebanyak 155 jiwa. Total warga terdampak di Kecamatan Banjarsari mencapai 1.495 jiwa.

Sementara itu, Kecamatan Panawangan mencatat dampak kekeringan di Desa Kertajaya dan Karangpaningal. Di Kertajaya, warga terdampak berada di Dusun Dayeuh Landeuh dan Susuru dengan total 424 jiwa. Sedangkan di Desa Karangpaningal, kekeringan melanda Dusun Surian, Bojongnangka dan Calingcing dengan jumlah mencapai 1.128 jiwa. Secara keseluruhan, terdapat 1.552 jiwa di Kecamatan Panawangan yang terdampak kekeringan.

Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Tambaksari, tepatnya di Desa Karangpaningal. Dua dusun, yakni Margamulya dan Cibodas, terdampak dengan total 1.137 jiwa. Untuk membantu warga, BPBD juga telah melakukan distribusi air bersih ke wilayah tersebut.

Di Kecamatan Pamarican, kekeringan tercatat di Desa Kertahayu, meliputi Dusun Tamansari dan Kertaharja. Jumlah warga terdampak mencapai 896 jiwa.

Kemudian Kecamatan Kawali tercatat terdampak di Desa Karapawitan, tepatnya Dusun Karangmulya, dengan jumlah 707 jiwa.

Di Kecamatan Cikoneng, kekeringan terjadi di Desa Cimari, Dusun Jalatrang, dengan 399 jiwa terdampak.

Selanjutnya, Kecamatan Cimaragas mencatat dampak di Desa Bojongmalang, Dusun Totokan, dengan 420 jiwa. Di Kecamatan Lumbung, kekeringan terjadi di Desa Darmaraja, Dusun Awiluar, dengan 240 jiwa terdampak.

Sementara di Kecamatan Purwadadi, Desa Bantardawa menjadi wilayah yang terdampak. Kekeringan melanda Dusun Bantardawa dan Bantarsari dengan total 244 jiwa.

Di Kecamatan Cisaga, terdapat dua desa yang terdampak, yakni Desa Sidamulya di Dusun Pasirpeuteuy dengan 145 jiwa, serta Desa Wangunjaya di Dusun Campaka dengan 70 jiwa.

Kemudian di Kecamatan Cihaurbeuti, kekeringan terjadi di Desa Sumberjaya, tepatnya Dusun Antralina dan Nanggela Kidul. Total warga terdampak mencapai 270 jiwa.

Di Kecamatan Jatinagara, Desa Cintanagara tercatat terdampak, masing-masing di Dusun Gunasari dan lingkungan SMPN Satu Atap 1 Jatinagara, dengan total 190 jiwa.

Sedangkan di Kecamatan Ciamis, kekeringan tercatat di Desa Benteng, Dusun Cimandala, yang berdampak terhadap 262 jiwa.

Untuk Kecamatan Cidolog, data BPBD mencatat wilayah Desa Janggala, Dusun Karanganyar, sebagai lokasi yang mendapatkan penanganan distribusi air.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekeringan tidak hanya terjadi di satu kawasan, tetapi menyebar di berbagai wilayah Ciamis. Kondisi geografis dan keterbatasan sumber air membuat sebagian warga harus mendapatkan pasokan air dari luar wilayah permukiman.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ciamis Ani Supiani mengatakan, pemerintah daerah membuka akses bagi desa yang mengalami kesulitan air bersih untuk segera melapor. Menurutnya, masyarakat tidak perlu menunggu proses administrasi yang panjang ketika kondisi sudah mendesak.

"Kami terus memantau perkembangan di lapangan karena kondisi musim kemarau masih berlangsung. Jika ada wilayah lain yang mulai mengalami kesulitan air bersih, kami akan segera menindaklanjutinya," katanya.

BPBD, lanjut Ani, akan melakukan asesmen terlebih dahulu untuk memastikan kondisi di lapangan sebelum bantuan air bersih dikirimkan.

Dengan demikian, desa yang sumber airnya mulai mengering diharapkan segera berkoordinasi dengan BPBD. Langkah cepat diperlukan agar kebutuhan air bersih warga dapat segera ditangani, terutama bagi wilayah yang sumber air alternatifnya berada cukup jauh dari permukiman.

"Kalau memang sudah kekeringan, kita siap untuk bantu," tegasnya.

Amni menegaskan, BPBD juga berkoordinasi dengan aparat setempat untuk menyiapkan sarana penampungan air tambahan, seperti torn atau kolam terpal di titik-titik permukiman. Penampungan tersebut diharapkan membuat distribusi air berikutnya lebih efektif dan warga tidak kesulitan menampung bantuan yang dikirim menggunakan kendaraan tangki. Penanganan kekeringan juga tidak hanya dilakukan oleh BPBD. Sejumlah instansi dan lembaga juga ikut membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

"Alhamdulillah penanganan dilakukan secara bersama-sama. Bantuan dari berbagai pihak sangat membantu mempercepat distribusi air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan," tutur Ani.