5. Perhatikan apakah pompa akan beroperasi 24 jam
Ini adalah salah satu poin yang sering dilupakan. Bambang menjelaskan pompa udara pada IPAL atau sistem aerasi tertentu dapat bekerja 24 jam sehari.
Artinya, pompa tidak hanya dituntut menghasilkan udara, tetapi juga harus mampu menghadapi pola operasi kontinu. Pompa yang cocok untuk penggunaan sesekali belum tentu ideal untuk penggunaan 24 jam.
"Karena itu tanyakan kepada pemasok, apakah pompa ini memang dirancang untuk continuous operation? Informasi tersebut jauh lebih penting dibandingkan sekadar melihat harga beli," tutur Bambang.
Harga pembelian hanyalah sebagian dari biaya memiliki pompa. Jika pompa beroperasi 24 jam sehari, konsumsi listrik selama bertahun-tahun dapat menjadi komponen biaya yang signifikan.
Sebagai ilustrasi, Bambang menjelaskan jika sebuah pompa menggunakan daya 50 watt dan beroperasi 24 jam sehari: 50 W × 24 jam = 1,2 kWh/hari. Dalam satu bulan: 1,2 × 30 = 36 kWh/bulan.
"Artinya, ketika membandingkan dua pompa, jangan hanya bertanya 'mana yang lebih murah?' Tetapi tanyakan, 'mana yang memberikan kapasitas udara yang dibutuhkan dengan konsumsi energi yang efisien?'. Inilah konsep Total Cost of Ownership (TCO)," jelas Bambang.
Teknologi yang digunakan akan memengaruhi karakteristik pompa. Untuk berbagai aplikasi aerasi, salah satu teknologi yang banyak digunakan adalah linear diaphragm.
Bambang mengatakan PT Yasunaga Indonesia merupakan salah satu produsen yang menggunakan teknologi electromagnetic linear diaphragm pada lini pompa udaranya.
Salah satu karakteristik teknologi tersebut adalah pengoperasian oil-less, sehingga pompa dapat digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan suplai udara tanpa pelumasan oli pada proses pemompaan.
"Untuk aplikasi pengolahan air dan lingkungan, karakteristik tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting," kata Bambang.
8. Perhatikan kebisingan dan getaran
Pompa udara yang bekerja terus-menerus dapat menjadi sumber suara apabila tidak dirancang dengan baik. Hal ini mungkin tidak terlalu menjadi masalah di lokasi industri yang jauh dari aktivitas manusia.
Namun, kondisinya berbeda apabila pompa ditempatkan di sekolah, rumah sakit, hotel, perumahan, restoran, fasilitas MBG, atau area publik. Dalam kondisi tersebut, low noise dan low vibration menjadi nilai tambah.
Beberapa lini pompa udara Yasunaga, kata Bambang, dirancang dengan karakteristik kebisingan dan getaran rendah sehingga dapat menjadi pilihan untuk aplikasi yang membutuhkan kenyamanan lingkungan.
9. Jangan abaikan ketersediaan spare part
Ini adalah kesalahan yang sering baru disadari setelah pompa mengalami kerusakan. Pompa udara, jelas Bambang, merupakan perangkat mekanis yang memiliki komponen yang dapat mengalami keausan, misalnya diaphragm dan komponen pendukung lainnya.
Bambang mengatakan pertanyaan yang sebaiknya diajukan sebelum membeli adalah:
- Kalau diaphragm rusak, apakah spare part-nya tersedia?
- Apakah spare part original tersedia?
- Apakah teknisi dapat melakukan penggantian?
- Apakah spare part masih tersedia untuk model lama?
"Pompa murah dengan spare part yang sulit ditemukan dapat berubah menjadi mahal ketika mengalami kerusakan," imbuh Bambang.
10. Pastikan barang dan spare part mudah didapat di Indonesia
Bagi perusahaan, jelas Bambang, downtime dapat menimbulkan biaya yang jauh lebih besar daripada harga pompa itu sendiri. Bayangkan sebuah IPAL berhenti beroperasi karena pompa rusak, tetapi spare part harus menunggu impor selama berminggu-minggu.
Karena itu, sebelum membeli, pastikan terdapat distributor atau jaringan pemasok resmi di Indonesia.
Menurut Bambang, PT Yasunaga Indonesia memiliki keuntungan dari sisi keberadaan manufaktur Yasunaga di Indonesia serta dukungan distribusi produk melalui PT Maha Tirta Utama sebagai distributor resmi di Indonesia.
"Hal ini dapat menjadi pertimbangan bagi pengguna yang membutuhkan dukungan produk dan suku cadang dalam jangka panjang," katanya.
11. Jangan terjebak pilihan "Semakin Besar Semakin Bagus"