"Iya korban saat ini tinggal sementara di rumah kakeknya, jadi tidak di Arjasari. Karena korban tidak ingin tinggal di rumah termasuk saudaranya yang lain karena saat kejadian berlangsung ada tiga keponakan saya," ungkapnya.
Di tengah perjuangan untuk sembuh, pihak sekolah pun menunjukkan empati besar. Korban diberikan dispensasi khusus agar tidak terbebani oleh urusan akademik. Fokus utamanya saat ini hanyalah satu, yaitu pulih sepenuhnya, baik raga maupun jiwa.
"Sudah konfirmasi juga, apa kalau dari pihak sekolah nyarankan untuk memfokuskan saja pada kesembuhan. Cuman kalau misalnya emang butuh tugas, ya nanti bakal dikasih. Jadi sekarang masih istihat di rumah," kata Deilham.
Kini, keluarga tengah menyusun rencana untuk melakukan trauma healing. Meski sempat mendapat perhatian dari KPAI saat masa perawatan di rumah sakit, keluarga merasa perlu mencari bantuan profesional tambahan. Nama praktisi perlindungan anak, Kak Seto, menjadi salah satu harapan keluarga untuk membantu menghapus trauma mendalam sang bocah.
"Nah, pas awal-awal yang waktu di rumah sakit, yang waktu buka perban yang pertama, itu ada dari KPAI. Cuma untuk pihak luar saya belum ada informasi lebih lanjut. Tapi kayaknya saya bakal coba kontak dari timnya Kak Seto, gitu. Karena memang bagian dari KPAI juga, gitu. Untuk pemulihan, karena memang butuh juga sih, gitu," pungkasnya.