Menurutnya, orang tua dan guru perlu waspada terhadap gejala gangguan mata pada anak seperti sering menyipitkan mata, melihat buku atau layar lebih dekat dari 30 cm, kesulitan melihat tulisan di papan, atau mulai mengalami hambatan dalam proses belajar.
"Deteksi dan koreksi sejak dini penting agar gangguan penglihatan tidak menghambat kesempatan anak untuk belajar dan berkembang," ujarnya.
Yang keempat, kolaborasi dan komunikasi publik perlu dikuatkan. Kesehatan mata bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, namun juga keterlibatan pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, organisasi profesi, sekolah, keluarga, masyarakat, dunia kerja, mitra pembangunan dan tentunya media.
"Penglihatan yang baik memberi kesempatan kepada anak untuk belajar lebih optimal, membantu masyarakat tetap produktif, mengurangi ketergantungan terhadap keluarga dan mendukung keselamatan dalam beraktivitas," ujarnya.