اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa anna 'abduka wa anaa 'alaa 'ahdika wa wa'dika. Mastatha'tu a'uudzu bika min syarri maa shana'tu abuu u laka bini' matika 'alayya wa abuu-u bidzanbii faghfir lii fa innahu laa yagfirudz dzunuuba illa anta.
Artinya: "Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu." (HR Bukhari)
Mengutip kitab Zadul Ma'ad karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, hari Jumat memiliki satu waktu istimewa (sa'atun ijabah) di mana setiap doa yang dipanjatkan seorang muslim tidak akan ditolak oleh Allah SWT.
Ibnu Qayyim menjelaskan dua pendapat terkuat mengenai waktu mustajab tersebut berdasarkan hadits shahih:
Pertama, tim redaksi duduknya imam hingga selesai salat. Waktu ini bertepatan saat khatib naik ke mimbar dan duduk di tim redaksi dua khutbah hingga salat Jumat selesai (HR Muslim).
Kedua, setelah salat Ashar sampai terbenam matahari. Menurut hadits, waktu di akhir siang hari Jumat, khususnya menjelang waktu magrib (HR Abu Dawud dan An-Nasa'i).