Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menduga benda bercahaya dan disusul dentuman di langit Gorontalo merupakan meteor. Suara dentuman disebabkan oleh efek gelombang kejut (shock wave) ketika meteor memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi melebihi kecepatan suara.
"Ini analisis saya penyebab suara dentuman dan cahaya terang adalah meteor besar (bola api, bollide)," kata Koordinator Kelompok Riset (Pokris) Astronomi dan Observatorium BRIN, Thomas Djamaluddin dalam keterangannya, Minggu (13/9).
Kecepatan sangat tinggi tersebut yang menyebabkan meteor terbakar dan tampak membara. Meteor itu tampak sangat terang karena ukurannya yang cukup besar.
"Ketika meteor melintasi gugusan awan, cahayanya dipantulkan oleh awan sehingga memunculkan beberapa kali kilatan cahaya. Tetapi sangat mungkin cahaya yang sangat menyilaukan disebabkan oleh ledakan akhir meteor (terminal flash)," jelasnya.
Meteor masuk atmosfer dari arah yang tidak diketahui. Kendati begitu, gelombang kejut dari dentuman meteor itu terekam sekitar pukul 00.18 Wita di Gorontalo, Sabtu (12/9) dan gelombang kejutnya terasa sampai Kotamobagu, Sulawesi Utara, pada pukul 00.20 Wita.
"Dengan kecepatan lebih dari 40.000 km/jam, meteor kemudian meledak di sekitar Gorontalo pada pukul 00.15 Wita yang menimbulkan suara dentuman (karena efek gelombang kejut) dan kilatan cahaya sangat terang (karena pecahan meteor langsung terbakar semua)," papar Thomas.
BRIN menduga ukuran meteor yang melintasi langit Gorontalo mencapai 10 meter. Dia lantas membandingkannya dengan ledakan asteroid di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan pada 2009 silam.
"Dengan membandingkan efek getarannya dengan kejadian di Bone yang disebabkan asteroid berukuran sekitar 10 meter, secara kasar meteor/asteroid penyebab dentuman dan kilatan di Gorontalo ditaksir sekitar 10 meter juga," pungkasnya.