Ayat tersebut memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat menjadi alat kezaliman ketika tidak disertai keadilan.

Fir'aun membagi masyarakat ke dalam kelompok-kelompok dan melemahkan sebagian dari mereka. Bani Israil menjadi kelompok yang ditindas, bahkan anak laki-laki mereka dibunuh.

Nabi Musa AS datang kepada Fir'aun membawa bukti-bukti kekuasaan Allah SWT. Namun, Fir'aun tetap menolak dan menganggap mukjizat yang dibawa Nabi Musa AS sebagai sihir.

Salah satu dialog tersebut diabadikan dalam Al-Qur'an.

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَآ اَنْزَلَ هٰٓؤُلَاۤءِ اِلَّا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ بَصَاۤىِٕرَۚ وَاِنِّيْ لَاَظُنُّكَ يٰفِرْعَوْنُ مَثْبُوْرًا ۝

Artinya: "Dia (Musa) menjawab, "Sungguh, engkau benar-benar telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa engkau, wahai Fir'aun, terlaknat." (QS Al-Isra': 102)

Dalam Tafsir Tahili dijelaskan, Musa AS mengatakan kepada Fir'aun sesungguhnya Fir'aun telah mengetahui bahwa yang menurunkan ayat-ayat ini adalah Tuhan yang memiliki langit dan bumi. Hal itu dijelaskan Nabi Musa AS sebagai bukti dan keterangan bahwa yang diserukannya itu adalah suatu kebenaran. Hanya orang yang bersih hatinya yang dapat menerima seruan tersebut.

Fir'aun memiliki kekuatan militer dan kekuasaan yang besar. Ia merasa mampu mempertahankan kekuasaannya dengan menekan orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya.

Namun, Al-Qur'an justru menunjukkan bahwa orang-orang yang dianggap lemah oleh Fir'aun kemudian mendapatkan pertolongan Allah SWT.

Dalam Surah Al-Qashash ayat 5, Allah SWT berfirman,

وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسْتُضْعِفُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ ٱلْوَٰرِثِينَ

Artinya: "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)."