NADIKABAR.COM — Sebanyak 67 Polsek hingga rumah susun (rusun) Polri di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kerusakan akibat gempa bumi. Polda NTT mencatat kerusakan fasilitas kepolisian itu mencakup 9 kantor Polsek (8 rusak ringan, 1 rusak berat), 4 Polsubsektor/Pospol (3 rusak ringan, 1 rusak berat), dan 54 asrama dan rusun Polri (42 unit rusak ringan, 12 unit rusak berat).
Rusun asrama Polres Manggarai Barat salah satu yang mengalami kerusakan berat akibat gempa tersebut. Anggota Polri dan keluarga yang menempati rusun itu mengungsi di tenda darurat di halaman rusun. Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko meninjau langsung kondisi rusun tersebut, Kamis (27/8/2026).
"Saya hadir untuk mengecek langsung kondisi rusun anggota Polres Manggarai Barat sesuai arahan Bapak Kapolri. Anggota Polri di lapangan bertugas membantu dan menolong warga masyarakat korban bencana, namun di sisi lain mereka dan keluarganya sendiri juga menjadi korban dan harus mengungsi di depan rusun," ujar Rudi Darmoko seusai meninjau Rusun Polres Manggarai Barat.
Dalam kunjungan lapangan tersebut, Rudi didampingi Wakapolda NTT, Brigjen Faizal dan Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, serta PJU Polda NTT. Mereka melihat dari dekat kondisi hunian para personel kepolisian yang retak hingga lantai tiga, sekaligus menyalurkan bantuan khusus dari Kapolri.
Rudi mengatakan Polda NTT tengah melakukan pendataan seluruh fasilitas kepolisian yang terdampak gempa di Flores. Pendataan ini dilakukan agar proses perbaikan dapat segera direalisasikan sesuai skala prioritas.
"Sesuai perintah Bapak Kapolri, minggu ini seluruh kerusakan rumah anggota, kantor polsek, maupun pospol harus sudah terdata," ujar Rudi.
"Bangunan yang masuk kriteria rusak ringan akan menjadi prioritas utama perbaikan minggu ini, sedangkan untuk yang rusak berat akan kami usulkan ke Mabes Polri untuk penanganan lebih lanjut," imbuh dia.
Ia bersyukur hingga saat ini tidak ada laporan anggota Polri yang mengalami luka-luka maupun menjadi korban jiwa akibat musibah gempa tersebut.
Tim Trauma Healing dan Tenaga Medis
Untuk memulihkan kondisi psikologis warga dan keluarga anggota terdampak, Polda NTT menerjunkan 63 konselor trauma healing yang ditempatkan di pusat-pusat pengungsian di tujuh kabupaten di Flores. Tim ini merupakan gabungan dari Biro Psikologi SSDM Mabes Polri, Polda NTT, serta jajaran Polda BKO.
"Pendampingan psikologis ini kami fokuskan baik untuk orang dewasa maupun anak-anak guna merilis emosi negatif, ketakutan, dan trauma pascabencana. Kami ingin warga dapat segera menetralisir rasa takut dan kembali menjalani kehidupan secara normal," jelas Rudi.
Selain penanganan psikologis, tim medis gabungan dari Pusdokkes Mabes Polri, Biddokkes Polda NTT, dan Dinas Kesehatan setempat telah siaga di posko-posko kesehatan untuk memberikan layanan medis bagi para pengungsi.