Kemenangan gemilang ini tidak hanya meruntuhkan salah satu dinasti adidaya saat itu, tetapi juga membuka lebar gerbang penyebaran ajaran Islam di kawasan Asia Barat.
Amr bin Ash adalah figur panglima yang memadukan kecepatan eksekusi dan efisiensi strategi. Ia sukses membebaskan Mesir dari cengkeraman Kekaisaran Romawi Timur dengan manuver yang sangat rapi.
Tidak hanya piawai berperang, Amr juga seorang administrator ulung. Ia mendirikan kota Fustat yang kemudian disulap menjadi pusat pemerintahan dan mercusuar peradaban Islam di bumi Mesir.
Tahun 711 M menjadi saksi bisu keberanian Thariq bin Ziyad saat memimpin pasukan menyeberang ke semenanjung Iberia (Andalusia, Spanyol). Mendarat di sebuah bukit yang kini diabadikan sebagai Jabal Thariq (Gibraltar), ia membakar semangat pasukannya lewat pidato legendaris yang membakar jiwa sebelum menghadapi bala tentara Raja Roderick dalam Pertempuran Guadalete.
Strategi ofensif yang berani ini sukses menancapkan pengaruh Islam di Eropa dan mewariskan peradaban megah selama berabad-abad lamanya.